Demi menyosialisasikan program pemerintah di bidang lingkungan hidup dan kehutanan, acara Indogreen Environment and Forestry Expo 2017 kembali digelar di Jakarta Convention Center, Jakarta, sejak hari ini (13/4) hingga Minggu (16/4).

Pameran yang tahun ini mengangkat tema ‘Kebangkitan Sektor Kehutanan dan Pelestarian Lingkungan’ juga memiliki beberapa tujuan lain.

Di antaranya peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan hutan dan pelestarian lingkungan, penyebarluasan informasi tentang potensi usaha pengelolaan hasil hutan dan fasilitasi investasi sektor kehutanan, menciptakan pola kemitraan dalam pengelolaan hutan dan hasil hutan, serta media pengayaan pengetahuan tentang pengelolaan hutan lestari.

Pameran ini menampilkan berbagai potensi sumber daya hutan dan pemanfaatannya dari hulu hingga hilir. Di antaranya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan dan hutan, pengembangan tata ruang, reklamasi, penguatan budaya lokal, promosi potensi pesona alam hutan, hingga pemanfaatan Corporate Social Environment Responsibility (CSER).

Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Bambang Hendroyono, MM memaparkan, “Pemerintah telah berkomitmen untuk memberikan hak dan akses kelola hutan kepada masyarakat untuk dapat dimanfaatkan secara optimal. Komitmen tersebut dijalankan melalui implementasi program Perhutanan Sosial 12,7 juta hektare yang telah dijalankan sejak akhir tahun 2016.”

Kementerian LHK terus menyusun berbagai kebijakan dalam pengelolaan dan perlindungan terhadap kawasan hutan. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui penetapan areal kerja hutan sosial seluas 1.672 hektare dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat, dan Hutan Kemasyarakatan.

Lalu penerbitan peraturan pengelolaan kawasan gambut sebagai upaya perlindungan dari ancaman kebakaran, pengembangan industri hasil hutan rakyat, serta pembiayaan usaha kehutanan dalam bentuk Fasilitas Dana Bergulir (FDB) sebesar Rp 400 miliar yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengelola hutan.

Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) turut mendukung kebijakan yang dijalankan oleh Kementerian LHK. Salah satunya dengan aktif menekan persoalan kebakaran hutan melalui program Desa Bebas Api (Free Fire Village). RAPP juga bergabung dalam Fire Free Alliance (FFA) yang telah menekan kebakaran hutan mencapai 90% di tahun ini.

Mulai tahun 2014, RAPP memberikan reward sebesar Rp 100 juta untuk pembangunan infrastruktur bagi desa yang bebas kebakaran selama periode tertentu. Hingga tahun 2017, program ini telah diikuti oleh 18 desa.

RAPP juga terlibat dalam program Restorasi Ekosistem Riau (RER) dengan dana yang digelontorkan mencapai Rp 1,3 triliun. RER merupakan program restorasi hutan gambut di Semenanjung Kampar, Riau dan menjadi salah satu contoh restorasi kawasan gambut yang berhasil.

Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Rudi Fajar mengatakan, sebagai perusahaan yang berkelanjutan, pihaknya berupaya mendukung program-program pemerintah yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan.

Kementerian LHK Wujudkan Kebangkitan Sektor Hutan & Pelestariannya

Dalam pameran kali ini, RAPP berupaya menyosialisasikan program-program berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakatnya. Di antaranya melalui booth Batik Bono dan Fire Free Village yang memberdayakan masyarakat Riau.

“Kami selalu berupaya agar sejalan dengan program pemerintah. Salah satunya berkomitmen dalam melaksanakan langkah strategis sedini mungkin mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rudi.

About the Author

Related Posts

Digelarnya Ijen Trail Running kali ini merupakan event yang sangat menarik bagi para wisatawan...

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) punya kabar gembira bagi perkembangan pariwisata di tanah...

Gunungkidul, Yogyakarta menyimpan banyak destinasi wisata yang indah. Sebut saja ada Gunung Api...

Leave a Reply