Kedatangan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence ke Indonesia membuka angin segar bagi kerja sama baik kedua negara. Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, nilai investasi AS ke Indonesia cukup besar. Pada 2012 hingga 2016, AS menduduki peringkat nomor lima sebagai investor di tanah air.

“Sayangnya, 90 persen dari investasi itu di bidang migas dan pertambangan,” ujar Thomas.

Untuk itu, yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia kini adalah pemindahan atau pengalihan investasi dari migas dan pertambangan ke sektor lain. Beberapa sektor yang dapat menjadi peluang baik bagi AS adalah sektor digital, teknologi, manufaktur, sektor jasa seperti aerospace, industri pesawat, industri otomotif, dan industri alat infrastruktur.

Kedua negara, menurut Thomas, memiliki kesamaan dari sisi kepala negara. Baik presiden Indonesia Joko Widodo maupun presiden AS Donald Trump merupakan pengusaha.

“Jadi dari awal, chemistry keduanya sangat baik. Keduanya berpikir seperti pengusaha, sangat praktis dan logis,” tambah Thomas.

Namun, ia mengatakan perlu adanya keterbukaan dari kedua pihak terutama dalam penyelesaian beberapa kendala investasi seperti Google, JP Morgan, dan PT Freeport.

Hal senada juga disamapikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartato. Kendati demikain Airlangga menyebutkan migas tetap jadi prioritas utama dalam kerja sama yang dibangun antara perindustrian di Indonesia dengan di Amerika Serikat.

“Tentunya seperti soal proyek-proyek migas, contohnya Exxon dan Natuna, yang sedikit tertunda. Serta sejumlah fasilitas di lepas pantai (offshore). Di samping itu, yang jadi prioritas utama lain adalah industri-industri jasa,” ujar Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga pun menuturkan Amerika Serikat cenderung suka berinvestasi di sektor-sektor yang terkait dengan pembangkit listrik, industri digital, dan produk konsumen.

Airlangga sendiri menyebutkan ekspor yang dilakukan Indonesia ke Amerika Serikat harus terus dijaga stabilitasnya. Menanggapi kemelut politik dari dalam negeri belakangan ini, seperti pada ajang Pilkada DKI Jakarta 2017, Airlangga berpendapat hal tersebut tidak berpengaruh pada kegiatan ekspor.

“Kalau ekspor ke Amerika Serikat kami harap tidak terganggu. Karena dalam ekspor itu kita memberikan perlakuan positif. Namun, kami juga dorong agar apa yang diproduksi di Indonesia, tidak diproduksi di Amerika Serikat, dalam artian complementary,” ungkap Airlangga.

About the Author

Related Posts

Untuk memuaskan pelanggannya, Operator internet Biznet akan menawarkan layanan untuk sektor...

Belakangan ini masyarakat dihebokan dengan munculnya berbagai kasus perkusi. Perkusi adalah...

Konser Wonderful Indonesia Crossborder TTU 2017 benar-benar meledak. Pergerakan wisatawan...

Leave a Reply