Spirit”Indonesia Incorporation” yang dicanangkan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, terus bergulir hingga Kementerian lain, salah satunya Kementerian Ketenagakerjaan. Terkait hal ini, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri siap membantu Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM)

Hanif mengatakan Kementeriaanya akan menyiapkan balai latihan kerja (BLK) hingga ke daerah. Tujuannya didirikannya BLK ini untuk mencetak SDM yang terampil di sektor pariwisata. Hanif menilai sektor pariwisata merupakan sektor yang top hits, setelah Presiden Joko Widodo memastikan core economy bangsa ini ada pariwisata. Program yang akan dibuat Hanif ini utamanya akan menyasar daerah perbatasan atau crosborder area.

“Sejumlah BLK baik di bawah kemenaker maupun pemerintah daerah, ini kami dorong masuk ke sektor hospitality, terutama daerah perbatasan atau crosborder area. Di luar itu kami juga bantu penyiapan instruktur,” ujar Hanif saat ditemui di kompleks Istana Negara, Jakarta.

Hanif menyebut Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat salah satu contoh yang akan didirkan BLK. Di Raja Ampat ini Kemenaker telah mengirim mengirim instruktur bahasa Inggris untuk melatih masyarakat pemandu wisata di sana karena sudah banyak wisatawan manca negara yang datang.

Di sisi lain, Menaker Hanif juga memuji pengembangan fasilitas pariwisata di pedesaan dengan membangun homestay. Hal tu, kata dia, akan membantu penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Dari segi tenaga kerja, saya bisa katakan sektor pariwisata cukup kompetitif, karena kita di sektor hospitality itu persiapannya sudah baik dan siap bersaing,” tutur Hanif, yang juga meyakini sektor ini bisa mendrive ekonomi bangsa, menaikkan devisa, mendongkrak PDB, dan yang sesuai dengan tupoksinya: meng-create tenaga kerja.¬†Namun demikian, pihaknya memberikan saran agar pembangunan homestay di berbagai daerah dilakukan berdasarkan standar tertentu.

“Perlu standar. Misalnya ada homestay melati, homestay bintang satu, bintang lima, sehingga dari segi services, fasilitas penginapan, ada sandar yang bisa menjadi pilihan wisatawan,” jelasnya.

Menpar Arief Yahya sependapat dengan usulan Menaker Hanif Dakhiri itu. Sejak tahun 2016 lalu, Kemenpar sudah membuat sayembara desain arsitekturalnya, dan masing-masing daerah (baca: 10 destinasi prioritas) sudah ketemu bentuk local wisdom-nya. “Dari bentuknya pun distandarkan, dan harus menggunakan kearifan lokal,” jelas Arief Yahya.

Lalu, standar layanan juga, Kemenpar sudah menurunkan tim dari Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata untuk mengajarkan hospitality. Soal kebersihan, kenyamanan, breakfast, soal atraksi masyarakat yang bisa memperkuat destinasi, soal budaya dan tradisi, sampai manajemen promosi via online.

 

 

 

 

About the Author

Related Posts

  Momentum bulan ramadhan selain merupakan bulan yang suci untuk perbanyak ibadah, juga merupakan...

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 triliun,...

Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Danau Kerinci yang berlokasi di...

Leave a Reply