Hari Kopi Internasional, Ini Sejarahnya dan Kiprah Kopi Indonesia Terhadap Dunia
Ayo siapa yang tau, selain memperingati Hari Kesaktian Pancasila, setiap tanggal 1 Oktober juga diperingati sebagai hari apa? Ternyata tanggal itu, juga diperingati sebagai International Coffee Day atau Hari Kopi Internasional.
Kenapa bisa demikian, pasti ada perjalanan yang menjadikan setiap tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional. Yuk, kita kupas sejarahnya.
Dijadikan sebagai gaya hidup, merupakan awal yang melatarbelakangi kopi untuk diperingati. Hal itu terlihat dari serbuan media sosial yang kontennya seputar kopi. Apalagi penyajian kontennya dikemas dengan kreativitas yang tinggi dari para pecinta kopi yang notabennya didominasi kalangan muda, hingga akhirnya kopi menjadi budaya.
Berangkat dari situ, akhirnya organisasi kopi dunia atau International Coffee Organization (ICO) menggelar sidang pada Maret 2014 lalu. Dalam sidang itu disepakati bahwa Hari Kopi Internasional jatuh pada tanggal 1 Oktober. Tak hanya mempopulerkan kopi, namun ICO juga ingin Hari Kopi Internasional juga sebagai momentum untuk memperkuat perdagangan kopi yang adil dan meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
ICO merupakan organisasi antarpemerintah untuk kopi untuk menyatukan ekspor dan impor menghadapi tantangan perkopian dunia melalui kerja sama internasional.
Awalnya ICO, hanya terdapat 74 negara, namun kini telah terdiri atas 77 negara dan 24 asosiasi kopi tergabung dalam ICO. Mereka mewakili 98 persen produksi kopi dunia dan 83 persen konsumsi dunia.
Hari Kopi Internasional pertama di peringati pada 1 Oktober tahun 2015 di Milan, Italia. Di peringatan yang pertama itulah, kampanye untuk meningkatkan perdagangan dan kesejahteraan kopi mulai digaungkan hingga sekarang.
Hari Kopi Internasional disebut merupakan sebuah selebrasi para pecinta kopi di dunia dan mengajak semuanya untuk berbagi cinta mereka terhadap kopi. Caranya adalah dengan mendukung jutaan petani kopi yang kehidupannya bergantung pada industri ini Tahun ini, Organisasi Kopi Internasional menyoroti kondisi para petani kopi, serta ancaman yang mereka hadapi di kehidupan mereka
Di Indonesia, sejarah kopi dimulai pada tahun 1969 lalu. Pada tahun itu, kopi dari Malabar, India dibawa oleh Belanda ke tanah Jawa. Kopi yang dibawanya, lantas dibudidayakan di sebuanh perkebunan yang terletak dekat Batavia, yakni Kedawaung. Namun sayang, budidaya tersebut kandas, karena dihantam gempa bumi dan banjir.
Gagalnya budidaya itu, tak membuat Belanda kapok. Pada tahun 1907, negeri kincir angin itu, kembali membawa kopi jenis yang berbeda masuk ke Indonesia pada tahun 1907. Kopi itu dikenal dengan nama kopi robusta atau Coffea Canephora. Budidaya kopi robusta ini pun dijalankan dan akhirnya berhasil. Hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan.
Setelah kemerdekaan tahun 1945, seluruh perkebunan kopi dinasionalisasikan dan hingga sekarang hasilnya pun kelihatan. Kini Indonesia menjadi salah satu negara penghasil kopi terbaik, bahkan produksi tahunan yang mencapai 600 ribu ton, mampu menyuplai tujuh persen kebutuhan kopi dunia. Karena itu, Indonesia diposisikan sebagai produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brasil dan Kolombia.
Di Indonesia, kopi menjadi komoditas perkebunan dengan penghasil devisa terbesar keempat setelah minyak sawit, karet dan kakao. Ekspor kopi Indonesia berdasarkan data BPS yang diolah Ditjen. Perkebunan pada semester 1 tahun 2019 menunjukkan hal yang menggembirakan dimana volume ekspor naik 19% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Hal ini juga di ikuti oleh peningkatan nilai ekspor dengan persentase 9% dibandingkan periode yang sama tahun 2018.
Sampai dengan bulan Juni 2019, ekspor kopi Indonesia tercatat sebesar 138,6 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai USD 392,5 juta dimana Negara utama tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, Italia dan Jepang dengan volume yang mencapai lebih dari 83 ribu ton. Berdasarkan kode HS, ekspor terbesar berupa biji Kopi Arabika WIB atau Robusta OIB (tidak digongseng, dengan kafein) yang mencapai 136,2 ribu ton pada semester 1 tahun 2019. Di pasar global, perdagangan komoditas kopi dibagi beberapa tipe produk; mulai dari biji kopi murni hingga olahan dan mixed coffee.
Tak hanya sebatas menyumbang kebutuhan kopi dunia, namun pemikiran dari Indonesia soal kopi juga dibutuhkan oleh dunia. Hal itu terlihat dari torehan dicapai Indonesia di pertemuan tahunan ke-125 Dewan ICO yang berlangsung pada 23–28 September 2019 di London. Di sidang itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo sebagai Ketua ICO Council untuk periode 2019 – 2020.
Pertemuan ICO Council ke-125 dilaksanakan di tengah meningkatnya keprihatinan terhadap merosotnya harga kopi dunia sebesar 30% dalam dua tahun terakhir dan perlunya upaya mendorong kerja sama di antara anggota ICO untuk mengatasinya.
Selain itu, beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Jusuf Kallam merekomendasikan dua langkah utama untuk memperbaiki harga jual kopi di tingkat internasional. Hal tersebut disampaikan Wapres, dalam pertemuan bertajuk “Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi Dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan” (Joint Actions to Face the Coffee Price Crisis and Achieve its Sustainable Production) di Markas Besar PBB tanggal 25 September 2019 lalu.
Dua langkah itu yakni, yang Pertama, melalui pengendalian jumlah pasok kopi ke pasar global yang diharapkan akan mempengaruhi faktor fundamental harga kopi. Namun ditegaskan oleh Wakil Presiden bahwa langkah ini perlu dilakukan secara terstruktur melibatkan negara-negara penghasil kopi utama dunia.
Kedua, melalui penambahan nilai produk-produk kopi yang didapat melalui program pengembangan kapasitas petani maupun tambahan kucuran dana investasi untuk peningkatan produktivitas kopi oleh Pemerintah. Kedua usulan ini memicu diskusi di antara para peserta pertemuan yang akhirnya sepakat untuk membicarakan usulan-usulan dimaksud maupun usulan lainnya secara lebih mendalam pada pertemuan lanjutan.
