Hanya Dengan Kelor, Produk Dudi Kini Tembus Pasar Dunia
Siapa yang mengira daun kelor, ternyata menyimpan banyak manfaat utamanya untuk kesehatan, sehingga kini banyak diminati masyarakat internasional. Kondisi itulah yang dirasakan oleh seorang warga bernama Ir. Ai Dudi Krisnadi.
Pekerjaannya sehari-harinya, Dudi adalah seorang pembuat produk olahan Kelor di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Awalnya usaha ini dijalaninya, setelah mendapat nasihat dari Ir. Erna Witoelar yang menjabat sebagai Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah dan menjabat ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudohusodo.
Nasihat itu, berupa pentingnya memperhatikan kandungan nutrisi untuk tanaman pangan dalam mencapai target ketahanan pangan. Nasihat tersebut didapat Dudi, ketika masih aktif sebagai Ketua HKTI Kabupaten Ciamis dan aktif juga di HKTI Pusat.
Keinginan Dudi untuk menjalani nasihat itu semakin menggebu, melihat Indonesia yang ketika itu di pimpin Presien Susilo Bambang Yudhoyo masih berhutang dalam memenuhi deklarasi Millenium Development Goals (MDGs), yakni kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan masyarakat.
Kesepakatan yang mulai dijalankan sejak September 2000 sampai dengan 2015. itu berisikan 8 tujuan pembangunan, salah satunya tentang menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Untuk menjalankan kesepakatan itu, pemerintah berupaya memenuhi angka kecukupan gizi, terutama di NTT yang 56% warganya malnutrisi. Pada 2011 pemerintah menginstruksikan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk meningkatkan gizi masyarakat NTT.
“Sejak itu saya mencari informasi komoditas yang dapat dikembangkan di sana,” kata Dudi.
Tanpa berpikir panjang lebar lagi, Dudi pun langsung mencari di internet tentang tanaman yang memiliki banyak nutrisi dan menemukan jawabanya di situs World Health Organization (WHO). Saat itu, situs WHO sedang membuat tebakan kepada pengunjung situs untuk menebak foto tentang tanaman misterius. Menurut WHO, tanaman itu, mampu menyelamatkan jutaan rakyat di beberapa negara di Benua Afrika dari kekurangan gizi.
Ternyata nama tanaman itu adalah Moringa olifiera atau di Indonesia disebut daun Kelor yang selama ini kerap digunakan untuk memandikan orang yang sudah meninggal.
“Saya pun penasaran dan mencari tahu apakah tanaman tersebut tumbuh di Indonesia atau tidak,” tutur pria kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, itu.
Dudi pun langsung berburu tanaman kelor, namun sebelum membuktikan tanaman itu aman dikonsumsi orang yang membutuhkan banyak nutrisi, Dudi mencoba mengkonsumsinya sendiri. Selama 6 bulan, Dudi mengkonsumsi tanaman yang jarang digunakan untuk lauk pauk ini.
“Ternyata aman dan tubuh saya menjadi lebih bugar,” tambahnya. Sejak itu ia pun gencar melakukan sosialisasi tentang manfaat kelor di beberapa daerah.Salah satunya di Madura, Jawa Timur, yang warganya terbiasa mengonsumsi moringa.
Lembaga internasional seperti Food and Agricultural Organization (FAO) dan WHO menyebut kelor sebagai super food karena kandungan nutrisi kelor yang luar biasa.
Tak hanya di Madura saja, idenya untuk mengembangkan kelor juga disampaikan Dudi hingaa ke NTT, yang saat itu sedang dilanda malnutrisi. Bersama TNI, ide Dudi ini berhasil mengatasi malnutrisi.
Kini populasi kelor di NTT terus bertambah. “Apalagi ketika itu Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan bantuan bibit kelor senilai Rp1,3 miliar,” ujarnya.
Selain di daerah, olahan kelor hasil garapan Dudi ini kini banyak dimintai banyak negara, seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Myanmar, Korea Selatan, dan negara-negara lain di Benua Afrika, Eropa, serta Amerika.
Salah satu olahan kelor yang diproduksi Dudi berupa tepung. Kendati dijadikan tepung, namun nutrisi yang terkandung di kelor tidak perah hilang.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan asam amino pada tepung kelor produksi Dudi masih lengkap, yakni mencapai 18 jenis asam amino. Dudi juga melakukan uji coba memproduksi aneka olahan daun kelor.
Cara yang dilakukan Dudi, agar nutrisi kelor tidak hilang yakni dengan pengeringan lambat, dengan suhu maksimal 35oC.
Dudi memperoleh pasokan bahan baku kelor dari pekebun mitra, salah satunya Felix Bram Samora. Pemuda asal Blora itu mengebunkan kelor secara organik di lahan 3 hektar sejak 2014.
Lokasi kebun bersebelahan dengan area pengolahan kelor milik Dudi. “Idealnya lokasi kebun dekat dengan lokasi pengolahan karena hasil panen daun kelor harus segera diolah sebelum 4 jam,” tutur Dudi.
Dari kebun seluas itu Bram memanen rata-rata 500 kg daun kelor segar setiap dua hari. Hasil panen itu ia jual ke Dudi, lalu dikeringkan.
Dari jumlah hasil panen itu menghasilkan 50 kg daun kelor kering atau rendemen 10%. “Setiap bulan saya harus membayar ke Bram rata-rata Rp75 juta per bulan,” ujar Dudi sambil tersenyum.
Dalam sebulan Dudi mampu menjual rata-rata 2 ton tepung daun kelor dengan harga Rp250.000 per kg atau total omzet rata-rata Rp500 juta per bulan. Tepung daun kelor itu menjadi bahan baku berbagai olahan, seperti teh, aneka jenis makanan, kapsul herbal, dan aneka produk kosmetik.
“Dulu tidak pernah terpikir untuk berbisnis kelor,” ujar produsen olahan kelor bermerek Kelorina itu.
Lokasi produksi Kelor yang dimiliki Dudi kini, terus didatangi tamu-tamu dari mancanegara untuk menjalin kerja sama. Ajak kerja sama ini mendorong Dudi untuk membangun Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia.
Bahkan Dudi banyak diundang untuk menjadi pembicara sebagai pengusaha kelor yang produknya sukses tembus ke pasar dunia.
