Kilometer Nol Indonesia Raih Penghargaan Wisata Terunik, Sinergi Diperkuat

0
Screenshot_104-2

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan penghargaan kepada Kawasan Kilometer Nol Indonesia di Kota Sabang, Provinsi Aceh, sebagai destinasi wisata terunik. Penghargaan itu diterima Walikota Sabang Nazaruddin saat penyelenggaraan Anugerah Pariwisata Indonesia (API) 2019, di Jakarta, Jumat malam (22/11/2019).

Nazaruddin bersyukur atas diraihnya penghargaan pariwisata ini. Penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi Pemerintah Kota Sabang untuk terus berinovasi dan berkreasi dalam mengembangkan pariwisata kota Sabang.

Jika pariwisata dapat dikembangkan, maka tidak menutup kemungkinan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) “Ini akan kita terus dipertahankan.” Kata Nazaruddin.

“Intinya pemerintah terus bekerja, dan terus berfikir bagaimana mempertahankan penghargaan yang telah kita dapatkan agar kita tidak dikalahkan daerah-daerah lain,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Disbudpar Sabang Faisal mengatajan, diraihnya penghargaan itu juga tak lepas dari peran pihak-pihak terkait. Sinergi dengan pihak terkait dapat menciptakan hasil yang memuaskan, seperti diraihnya pengharagaan API ini.

“Ke depannya kita akan lebih bersinergi dengan BPKS dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dalam mengelola sektor ini, karena ini termasuk dalam kawasan hutan wisata,” kata Kepala Disbudpar Sabang Faisal.

Tugu Nol Kilometer diresmikan pada 9 September 1997 oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno, sehingga tugu itu menjadi simbol perekat dari Sabang sampai Merauke. Namun, seiring berjalannya waktu tugu itu beberapa kali direnovasi.

Desain Tugu Kilometer Nol itu memiliki beberapa arti filosofi, seperti empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol batas-batas negara yaitu Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote.

Selanjutnya lingkaran besar pada tugu merupakan analogi dari angka nol dan motif senjata rencong menjadi simbol bahwa Aceh juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sementara, ornamen lainnya yang berbentuk segi delapan menggambarkan landasan ajaran Islam, kebudayaan Aceh dan Nusantara dalam lingkup yang luas sesuai delapan penjuru mata angin.

Seluruh arsitektur dari tugu memiliki pesan-pesan kebangsaan yang menyatukan keberagaman Indonesia. Tak hanya tugu nol kilometer, tetapi Sabang juga memiliki keberagaman suku dan adat yang hidup harmonis.

Setelah Kota Sabang, wisata terunik kedua diraih destinasi wisata Gua Mabala di Kabupaten Sabu Raijua, dan ketiga wisata Danau Kaolin di Kabupaten Bangka Tengah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *