Presiden Minta Investasi di Bidang Industri Substitusi Impor Ditingkatkan

0
Ratas-Penyaluran-Dana-Desa

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin investasi di sektor bahan baku industri diperbanyak, agar dapat menekan tingginya impor bahan baku. Melonjaknya impor tersebut, membuat defisit neraca perdagangan terus terjadi.

Presiden mengungkapkan, hal ini harus menjadi perhatian Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kemenko Maritim dan Investasi, agar Indonesia dapat menjadi produsen bahan baku . Presiden menyerukan harus memaksimalkan peluang agar investor yang bergerak bidang industri substitusi impor, dapat menjadikan Indonesia sebagai pilihan utama.

“Berarti tadi industri baja, industri kimia atau petrokimia, betul-betul harus dibuka karena ini jebakan substitusi impor,” kata Presiden Jokowi saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Akselerasi Implementasi Program Perindustrian dan Perdagangan, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Rapat terbatas dihadiri, antara lain Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin, Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menhub Budi K. Sumadi, dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Presiden mendorong BKPM dan Kemenko Maritim dan Investasi untuk secepatnya menerapkan quick win supaya industri pengelohan, seperti industri besi baja dan petrokimia dapat tumbuh. Tak hanya itu, impor BBM yang juga dirasakan masih tinggi harus ikut diperhatikan. Presiden ingin mandatory biodisel B30 dipercepat, guna menimialisi ketergantungan impor BBM.

“Saya tadi mendengar dari Pak Menteri BUMN, bulan ini sudah bisa kita mulai untuk biodiesel B30, dan tumbuhnya industri pengolahan bukan hanya untuk menghasilkan barang-barang pengganti impor, tetapi juga akan memberikan nilai tambah, karena membuka lapangan kerja yang cukup besar. Ini yang memang kita kejar membuka lapangan kerja,” tegas Presiden.

Sebelumnya saat mengawali arahannya Presiden Jokowi mengemukakan, bahwa fokus pemerintah ke depan adalah menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap positif dan menekan defisit transaksi berjalan, serta pada saat yang sama memperbesar surplus neraca perdagangan.

Karena itu, menurut Presiden, kita harus konsentrasi pada langkah-langkah terobosan untuk pengurangan angka impor. Presiden juga merujuk data BPS, impor bahan baku atau bahan baku penolong memberikan kontribusi yang besar yaitu 74,06% dari total impor di bulan Januari sampai Oktober 2019, sedangkan impor barang modal angkanya sampai 16,65% dan impor barang konsumsi sebesar 9,29%.

Lebih dalam lagi, Presiden menjelaskan, jenis barang bahan baku yang masih besar angka impornya antara lain adalah besi baja yang mencapai 8,6 juta dollar AS, dan industri kimia organik atau petrokimia yang mencapai 4,9 miliar dollar AS  dan juga industri kimia dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *