Di Pasar Tebet Penggunaan Kantong Plastik Mulai Ditinggalkan

0
sampah plastik

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang larangan penggunaan kantong plastik. Meski aturan tersebut berlaku 1 Juli mendatang, masyarakat nampaknya mulai meninggalkan penggunaan kantong plastik.

Pasar Tebet Barat dan Timur telah dipilih sebagai percontohan gerakan pengurangan kantong plastik sekali pakai oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Para pedagang di pasar rakyat yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya ini bertekad menjadi pelopor penerapan Pergub 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan Pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan dan Pasar Rakyat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sudah tak lagi menggunakan kantong plastik. Andono mengklaim pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya itu menjadi pelopor pasar bebas plastik.

“Para pedagang secara sukarela siap menjadi pelopor. Mereka lebih dahulu menerapkan kebijakan bebas kantong plastik sekali pakai sejak akhir Februari 2020,” kata Andono di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Dalam Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan Pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan dan Pasar Rakyat dijelaskan bahwa pengelola pusat perbelanjaan harus mewajibkan seluruh pelaku usaha untuk menggunakan kantong belanja ramah lingkungan dan melarang kantong belanja plastik sekali pakai.

Pengelola wajib memberitahukan aturan itu kepada seluruh pelaku usaha di pusat perbelanjaan atau pasar rakyat yang dikelolanya.

“Tujuannya untuk mengajak masyarakat sama-sama mengurangi sampah plastik yang sulit terurai dengan cara membawa tas belanja sendiri,” ujar Andono.

Andono menuturkan, kantong belanja ramah lingkungan adalah kantong belanja yang terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang. Kantong belanja seperti ini juga dapat digunakan berulang kali.

Sementara itu, Wakil Wali kota Jakarta Selatan Isnawa Adji mengungkapkan, wilayahnya menyumbang sampah 1.400 ton dari total 7.800 ton sampah per hari yang dihasilkan warga Jakarta.

“Pengurangan sampah di sumber, terutama dari pasar mudah-mudahan dapat dimulai dari Jakarta Selatan,” kata Isnawa.

Di sisi lain, camat dan lurah di Jakarta Selatan didorong untuk membuat bank-bank sampah disetiap RT, sekolah, dan kantor-kantor kecamatan. Dengan upaya tersebut, lanjut Isnawa, pihaknya optimistis target 22 persen pengurangan sampah per tahunnya bisa dilakukan.

“Sehingga angka 22 persen menjadi target kita mengurangi sampah dari sumbernya dapat tercapai.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *