Menteri Edhy: KKP Terus Dampingi Nelayan Kembangkan Model Usaha Berkelompok
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menjalani apa yang dinstruksikan Presiden terkait pengelompokan petani dan nelayan untuk membuat suatu badan usaha. Pendampingan usaha berkelompok bagi para nelayan salah satu yang telah dijalani KKP.
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, pendampingan kelompok usaha ini untuk bidang budidaya, perikanan tangkap hingga ke pemasarannya dan saat model usaha sedang dikembangkan.
Menteri Edhy menyebut proyek penghembangan tambak udang di lima wilayah potensial menjadi bagian yang diwujudkan KKP dalam penampingan ini. Lima wilayah pontensial tersebut yakni di Aceh, Lampung, Cianjur, Sukamara (Kalimantan Tengah), dan Buol (Gorontalo). Bahkan tambak udang di bidang budidaya ini menjadi percontohan untuk tambak udang di daerah lain.
“Kita harapkan ini menjadi salah satu basis tempat pembelajaran nelayan-nelayan pembudidaya/petambak kita untuk bisa langsung turun memiliki satu usaha yang secara korporasi,” kata Menteri Edhy usai mengikuti Rapat Terbatas mengenai Korporasi Petani dan Nelayan dalam Mewujudkan Transformasi Ekonomi, Selasa (6/10/2020), di Jakarta.
Proyek dikembangkan di lahan seluas 5 hektar dan ditargetkan pada akhir tahun, lahan tersebut sudah sudah siap untuk diperlihatkan kepada daerah lain sebagai rujukan untuk membangun atau mengembangka usaha tambak udang.
Masih di bidang budidaya, Menteri Edhy menjelaskan, budidaya ini juga menyasar pada kalangan millenial shrimp farming atau tambak udang dengan bioflok di dua tempat, yaitu di Jepara seluas 50 hektare dan Situbondo seluas 40 hektare.
“Ini sekaligus tempat melatih anak-anak muda kita untuk melakukan budidaya tambak udang secara bioflok,” kata Menteri Edhy..
Untuk bidang sektor perikanan tangkap, Menteri Edhy menjelaskan bahwa KKP fokus pada faslitias yang digunakan nelayan, salah satunya adalah kapal. KKP kini sedang melakukan pendataan kapan yang beronase di bawa 5 GT.
“Ini yang kita akan naikkan kelas sehingga nanti ke depan pemilik kapal di Indonesia ini bukan hanya karena pengusaha-pengusaha yang punya modal, tapi nelayan-nelayan yang tadinya kecil yang selama ini termarjinalkan,” kata Edhy.
Di sektor pemasaran, kata Menteri KP, serapan produk industri dan produksi perikanan cukup tinggi, baik untuk pasar dalam maupun luar negeri. “Kalau pasar kemarin kami di bawah komando Bangga Buatan Indonesia, insyaallah Oktober ini kami akan launching Pasar Laut Indonesia dengan produk yang akan dijual ada 800-an,” kata Edhy Prabowo.Terkait pembiayaan untuk para nelayan, kata Menteri KP, dapat menggunakan KUR (Kredit Usaha Rakyat) maupun kredit mikro melalui LPMUKP (Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan) yang dimiliki KKP.
Diakuinya, saat ini sudah banyak model korporasi di sektor perikanan, namun belum terkoneksi dengan baik. Pihaknya pun tengah mematangkan program pendampingan bagi kelompok nelayan tersebut.
“Kami harapkan ini akan menjadi bagian pekerjaan utama kami untuk menghasilkan bahwa nelayan-nelayan yang selama ini menjadi terbelakang akan terdepan. Setidak-tidaknya mereka bisa mengurus dirinya sendiri,” kata Edhy.
