Seberapa Bahaya Permainan Skip Challenge ?

0

Setelah mannequin challenge hits dikalangan remaja, kini giliran skip challenge yang sedang digandrungi para remaja.Apa itu skip challenge? Permainan yang satu ini dinilai sangat berbahaya, karena dilakukan dengan menekan bagian dada sekeras-kerasnya selama beberapa waktu untuk membuat seseorang kekurangan oksigen sehingga kehilangan kesadaran alias pingsan. Tren ini, mirisnya, diikuti banyak remaja karena dianggap memberi pengalaman menyenangkan sekaligus menegangkan.

Nastiti Kaswandani dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI di Menteng menilai ‘Permainan’ ini menjadi berbahaya karena menghambat jalur pernapasannya dengan sengaja.

“(Dengan permainan tersebut) Anak dibuat tidak bagus jalan pernapasannya. Segala hal yang membuat orang jatuh pada kondisi kekurangan oksigen itu berbahaya,” ujar dr Nastiti.

Menurut dr Nastiti, Pembuluh darah besar akan tertekan dan menghambat aliran darah beroksigen ke otak saat dada ditekan dengan kuat. Hal ini akan menyebabkan orang akan kejang dan pingsan.

Terhambatnya oksigen ke otak ini disebut sebagai hypoxic-anoxic brain injury (HAI). Selain menyebabkan sesak napas dan lainnya, aksi ini juga menyebabkan efek jangka panjang untuk tubuh. Bahkan bisa diperparah dengan menyebabkan kematian sel tubuh, masalah penglihatan, kerusakan fungsi motorik tubuh.

dr Nastiti menjelasakan Kematian sel bisa terjadi setelah beberapa menit kekurangan oksigen dan menyebabkan berbagai masalah didalam tubuh. Misalnya, kerusakan dan kematian sel di area mata akan mengganggu penglihatan, sedangkan kematian sel motorik akan menyebabkan gangguan fungsi motorik. Bahkan jika sel otak dan sel tubuh lain yang tidak bisa diperbaiki ikut rusak akan lebih berbahaya dengan fungsi organ tubuh.

“Kalau masih dalam waktu sebentar sehabis pingsan mungkin akan sadar lagi. Sama saja jika kita menahan napas untuk menyelam. Yang sulit itu jika kebablasan,” tuturnya.

Nastiti mengatakan, tidak ada keuntungan bagi yang melakukan skip challenge. Terkait hal ini, dikatakannya, perlu ada peran serta orang tua dan guru di sekolah untuk lebih waspada pada permainan modern yang populer di media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *