Alami Tekanan Akibat Pandemi, AP I Siapkan Skema Restrukturasi Finansial dan Operasional

0
AP1-750x460

Manajemen Angkasa Pura Airports (Angkasa Pura I) telah menyiapkan program restrukturisasi operasional dan finansial perusahaan yang diharapkan rampung pada Januari 2022 mendatang. Program tersebut disiapkan untuk membangkitkan kembali kinerja Perusahaan plat merah yang mengelola 19 bandara di Indonesia ini.

Perusahaan pengelola Bandara ini, tidak dapat memungkiri, pandemi Covid-19  pada awal Maret 2020 hingga saat ini,  turut memberikan dampak yang luar biasa. Turunnya trafik penumpang di 15 bandara menjadi salah satu yang dirasakan Angkasa Pura Airport.

Sebelum pandemi, tepatnya pada tahun 2019, bandara yang berada dibawah naungan Angkasa Pura Airports mampu mendatangkan 81,5 juta penumpang, namun kondisi tersebut berubah drastis saat tahun pertama pandemi terjadi yakni tahun 2020. Pada tahun itu hanya 32,7 juta penumpang dan tahun diprediksi hanya mencapai 25 juta penumpang.

Ironisnya, pandemi ini terjadi disaat Angkasa Pura Airports sedang melakukan pengembangan di sejumlah bandara yang berada dalam kondisi lack of capacity, seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA) yang menghabiskan biaya pembangunan hampir Rp12 triliun, Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang menghabiskan biaya pembangunan sebesar Rp2,3 triliun, Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebesar Rp2,03 triliun, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebesar Rp2,6 triliun, dan beberapa pengembangan bandara lainnya.

Ilustrasi

 

Kesemua  pengembangan bandara tersebut dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi. Hal ini juga  dimaksudkan untuk menjaga  konektivitas udara tanah air tetap terbuka serta mempercantik gerbang udara daerah lebih menarik.

Kondisi keuangan Angkasa Pura Airport juga mengalami tekanan yang cukup besar.  Angkasa Pura Airport sulit untuk mendongkrak segi pendapatan karena menurunya jumlah penumpang.  Pendapatan Rp8,6 triliun pernah diraih Angkasa Pura Airport pada tahun 2019, namun pendapatan tersebut tidak mengalami kenaikan justru merosot di tahun 2020 yang hanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp3,9 triliun dan diperkirakan tahun ini akan kembali merosot, mengingat jumlah penumpang diprediksi hanya 25 juta orang.

Dengan situasi trafik yang menurun dan adanya tekanan keuangan, Angkasa Pura Airports harus dihadapkan dengan kewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara.

Ilustrasi

“Seperti diketahui, sektor aviasi dan pariwisata merupakan sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19 di mana pandemi ini masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Situasi pandemi yang berkepanjangan membawa tekanan kepada kinerja operasional dan keuangan Angkasa Pura Airports. Namun di tengah situasi sulit ini, manajemen telah menyiapkan sejumlah inisiatif strategis untuk meminimalisir dampak pandemi terhadap kinerja Angkasa Pura Airports, yaitu dengan melakukan restrukturisasi operasional dan finansial,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura Airports Faik Fahmi.

Angkasa Pura Airports, dalam hal restrukturisasi lanjut Faik Fahmi, akan melakukan upaya asset recycling, intensifikasi penagihan piutang, pengajuan restitusi pajak, efisiensi operasional seperti layanan bandara berbasis trafik, simplifikasi organisasi, penundaan program investasi serta mendorong anak usaha untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru (transformasi bisnis).

 “Kami optimis dengan program restrukturisasi ini dapat memperkuat profil keuangan perusahaan ke depan. Terutama kemampuan kami untuk memastikan penambahan pendapatan cash in, efisiensi biaya dan upaya fundraising. Hal yang menggembirakan adalah adanya kenaikan trafik penumpang di akhir-akhir ini hingga mencapai 129.000 pada 28 November lalu dari rata-rata trafik sebelumnya yang hanya hanya sekitar 55.000 – 60.000 per hari. Hal ini yang membuat optimisme kami terjaga,” ujar Faik Fahmi.

Ilustrasi

Selain itu, untuk mendorong peningkatan pendapatan lainnya, transformasi bisnis usaha yang dilakukan Angkasa Pura Airports adalah menjalin kerja sama mitra strategis untuk Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Dhoho Kediri, Bandara Lombok Praya; pemanfaatan lahan tidak produktif seperti lahan Kelan Bay Bali; dan mengembangkan airport city Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) serta eks Bandara Selaparang Lombok.

“Manajemen tengah berupaya keras untuk menangani situasi sulit ini dan berkomitmen untuk dapat survive dan menunaikan kewajiban perusahaan kepada kreditur, mitra, dan vendor secara pasti dan bertahap. Dengan berbagai inisiatif strategis tersebut kami optimis dapat bertahan menghadapi kondisi sulit ini dan mulai bangkit pada 2022 serta dapat mencatatkan kinerja keuangan positif. Total target hasil restrukturisasi akan mencapai tambahan dana Rp3,8 triliun, efisiensi biaya sebesar Rp 704 miliar dan perolehan fund raising sebesar Rp 3,5 triliun.  Ujar Faik Fahmi.

Ilustrasi

Dan perlu diingat, dengan adanya pembangunan bandara Angkasa Pura I maka secara konsolidasi menambah aset perusahaan. Di 2021 ini akan mencapai Rp44 triliun dari semula Rp24 triliun di 2017, saat proyek-proyek pengembangan bandara mulai dilaksanakan. Tentunya dengan selesainya pelaksanaan pembangunan dan perluasan terminal bandara, maka seluruh bandara Angkasa Pura Airports menjadi lebih cantik, lebih nyaman, dan dapat secara fleksibel menerapkan protokol kesehatan dengan lebih baik lagi,” tambahnya. (Sumber AP I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *