IHSG Rebound Tipis 1%, Optimisme Pasar Muncul di Tengah Transisi Pimpinan OJK

0
IHSG Rebound Tipis

Gambar ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (Illustrated by Gemini AI)

Jakarta, EL JOHN News — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya berbalik arah dan rebound pada perdagangan Selasa (3/2/2026). Hingga pukul 09.50 WIB, IHSG menguat 82 poin atau 1,01% ke level 8.004, setelah sebelumnya sempat tertekan hampir 2% pada 10 menit awal perdagangan.

Rebound IHSG ditopang penguatan mayoritas sektor saham. Sektor material dasar memimpin penguatan dengan lonjakan 2,94%, disusul teknologi naik 2,82%, energi menguat 1,95%, industri naik 1,48%, properti menguat 0,87%, serta keuangan naik tipis 0,05%. Sementara itu, sektor infrastruktur masih berada di zona merah.

Saham Konglomerasi Berbalik Menguat

Sejumlah saham konglomerasi yang sebelumnya tertekan, mulai menunjukkan pembalikan arah.

  • Grup Prajogo Pangestu ditopang penguatan BRPT dan CUAN
  • Grup Bakrie menguat melalui BUMI dan BRMS
  • Grup Aguan didukung PANI dan CBDK
  • Grup Happy Hapsoro menguat lewat RAJA dan RATU
  • Grup Haji Isam terdorong penguatan JARR dan FAST

Sementara itu, saham dengan kenaikan harga paling agresif antara lain LMPI yang melonjak 35% ke Rp270, SOHO melesat 25% ke Rp2.800, PTIS naik 24,57% ke Rp216, serta ESTI menguat 23,43% ke Rp216.

Asing Tetap Net Buy di Tengah Gejolak

Rebound ini terjadi setelah IHSG pada Senin (2/2/2026) ditutup anjlok 4,88% atau 406,88 poin ke level 7.922,73. Meski demikian, investor asing justru agresif mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp654,93 miliar, dengan saham BBCA menjadi incaran utama senilai Rp427,48 miliar.

Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat anjlok 11,73%, ditekan sentimen negatif dari keputusan MSCI yang menerapkan interim freeze terhadap saham Indonesia terkait isu free float dan transparansi data investor. MSCI bahkan memberi ultimatum potensi penurunan status pasar Indonesia dari emerging market ke frontier market bila tak ada kejelasan regulasi.

OJK & BEI Tawarkan Solusi ke MSCI

Menanggapi hal tersebut, OJK bersama BEI dan KSEI memaparkan delapan rencana aksi reformasi pasar modal, di antaranya:

  • Peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1%
  • Klasifikasi investor diperluas dari 7 menjadi 27 sub-tipe
  • Kenaikan minimum free float saham dari 7,5% menjadi 15%
  • Percepatan proses demutualisasi BEI

Anggota Dewan Komisioner OJK Hasan Fawzi menegaskan, proposal yang diajukan telah menjawab seluruh kekhawatiran MSCI terkait transparansi dan free float saham.

Pemerintah & Otoritas Tetap Optimistis

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan di pasar saham bersifat sementara. Menurutnya, pasar masih menunggu kepastian penetapan Ketua OJK definitif.

“Ini shock sementara. Fundamental ekonomi Indonesia tidak bermasalah. Investor sebaiknya fokus ke saham-saham blue chip,” tegas Purbaya.

Nada serupa disampaikan Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, yang menilai rotasi investor ke saham-saham berfundamental kuat sebagai sinyal positif.

“Saham-saham dengan fundamental solid justru mencatatkan net buy. Investasi harus dilihat dari perspektif jangka menengah hingga panjang,” ujar Pandu.

OJK Perkuat Pengawasan Saham Gorengan

OJK menegaskan komitmennya memberantas praktik saham gorengan, termasuk penguatan pengawasan market conduct dan penegakan hukum yang memberikan efek jera.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan bahkan mendorong pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi anomali harga dan transaksi mencurigakan secara lebih cepat dan akurat. “Penggunaan AI krusial untuk memperkuat pengawasan dan mencegah praktik manipulasi pasar,” tegas Luhut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *