Jejak Batik Tulis Lawasan Lasem Cik Kien, Galeri Yen Arya Semar Lasem Merawat Warisan Batik Tulis
El John News, Jakarta – galeri yen arya semar Berdiri sekitar tahun 1998-1999, dan mulai ramainya di 2010 Itu mulai booming Setelah batik diakui di UNESCO, waktu Pak Presiden SBY
Galeri Yen Arya Semar berjulan batik fokusnya di lawasan Jadi kita tidak buat, tapi ada sebagian batik baru Itu kita biasanya beli di teman-teman pembatik Kita pilih, kita jual Karena ada konsumen yang tidak mau batik lawas Karena batik lawas kan dominannya itu bekas Jadi kita sediain juga batik baru Tapi sedikit, kita fokusnya lebih banyak ke lawas-lawas

keunikan batik Lasem kembali mengemuka. Ragam hias seperti latohan dan gunung ringgit tidak hanya menjadi identitas visual yang membedakan Lasem dari daerah lain, tetapi juga memuat makna filosofis tentang keberkahan dan kelimpahan rezeki. Motif-motif ini menegaskan bahwa batik Lasem bukan sekadar kain, melainkan medium narasi budaya yang terus dirawat melalui tangan-tangan yang setia menjaga warisan.
“Kalau yang paling khas itu ya, kayak latohan latohan itu di batik lain tidak ada, itu khas lasem Terus kayak gunung ringgit, itu juga khas lasem Kalau filosofinya itu banyak rezeki Gunung ringgit bukan melambangkan uang, banyak rezekiny.”
Liem Han Yen, pemilik Galeri Yen Arya Semar Lasem
biasanya Bap dengan regenerasi yang baik Meskipun itu belakangnya juga tidak mudah Dengan artinya banyak-banyak pabrik yang masuk di daerah Itu kadang orang lebih suka kerja di pabrik daripada pembatik Ya saya berharap supaya terus berkembang Banyak tamu yang datang juga membuka banyak peluang usaha.
