M. Johnnie Sugiarto Soroti Dampak Ganda Tiket Mahal dan Jadwal Terbatas
Founder & Chairman EL JOHN Indonesia, M. Johnnie Sugiarto (Foto: EL JOHN Media)
El John News, Jakarta-Kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan pelaku industri pariwisata. Kondisi ini dinilai tidak hanya memengaruhi biaya perjalanan wisatawan, tetapi juga berpotensi menekan pergerakan wisatawan mancanegara, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Tokoh Pariwisata Nasional M. Johnnie Sugiarto, menilai kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya berdampak pada biaya perjalanan, tetapi juga berpotensi menekan sektor pariwisata, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, saat ini kenaikan harga tiket terjadi bersamaan dengan perubahan pola penerbangan yang dilakukan sejumlah maskapai. Kondisi tersebut membuat ketersediaan jadwal penerbangan ke berbagai destinasi ikut berkurang.
“Tiket memang menjadi lebih mahal. Dan tidak hanya lebih mahal, tetapi juga schedule banyak yang diubah. Jadi banyak negara melakukan reschedule, mengurangi jumlah penerbangan agar load factor mereka bisa menjadi lebih tinggi. Mereka mengejar load factor 90% ke atas. Akhirnya, yang tadinya mungkin schedule-nya ke satu destinasi bisa 5 kali, sekarang menjadi hanya 3 kali,” ujar Founder & Chairman EL JOHN Indonesia ini.
Ia menjelaskan, pengurangan frekuensi penerbangan tersebut berdampak langsung terhadap arus wisatawan mancanegara menuju Indonesia. Kombinasi antara kenaikan harga tiket dan berkurangnya jadwal penerbangan dinilai menjadi tantangan ganda bagi sektor pariwisata.
“Jadi selain dari tiket mahal, schedule juga berkurang. Jadi ada dua dampak yang terjadi untuk incoming tourist dari negara-negara lain menuju ke Indonesia,” tambahnya.
Terkait langkah pemerintah dalam menghadapi kondisi ini, Johnnie menilai ruang intervensi yang dimiliki tidak terlalu besar karena situasi serupa juga terjadi di banyak negara lain.
“Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Karena semua negara juga berupaya melakukan mencari terobosan dan melakukan negosiasi ulang dengan airline, dengan travel agent, dengan hotelier. Mereka mencoba untuk menekan kos di sana-sini agar daya beli masyarakat, terutama traveler, bisa tetap melakukan perjalanan,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya yang dilakukan berbagai pihak saat ini lebih diarahkan untuk menjaga agar jumlah perjalanan wisata tetap stabil, atau setidaknya tidak mengalami penurunan yang signifikan.
Dengan berbagai dinamika yang terjadi di industri penerbangan, sektor pariwisata dituntut untuk lebih adaptif dalam menjaga daya saing. Upaya kolaboratif antara pelaku usaha dan berbagai pihak dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan wisata tetap stabil.
