Trump Ultimatum Iran: Damai atau Hadapi Serangan Militer AS
Presiden AS Donald Trump memberikan keterangan pers di gedung Oval, White House (Foto: tangkapan layar Youtube The White House)
El John News-Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase penuh ketegangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum baru kepada Teheran dengan menegaskan bahwa hanya ada dua jalan yang bisa ditempuh, yakni mencapai kesepakatan atau menghadapi tindakan militer dari Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Ruang Oval pada Senin (6/7/2026). Meski mengaku lebih menginginkan penyelesaian melalui jalur diplomasi, Trump menegaskan pemerintahannya siap mengambil langkah militer apabila proses negosiasi kembali gagal menghasilkan kesepakatan.
“Kita akan membuat kesepakatan atau kita akan menyelesaikan pekerjaan itu. Dan tidak akan sulit untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Saya lebih suka membuat kesepakatan, karena saya tidak ingin memengaruhi 91 juta orang,” kata Trump.
Trump kembali menegaskan bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Menurutnya, Washington tetap membuka ruang diplomasi, namun opsi penggunaan kekuatan militer tidak pernah dikesampingkan apabila pembicaraan menemui jalan buntu.
Bahkan, Trump mengklaim Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk melumpuhkan berbagai fasilitas strategis Iran hanya dalam waktu singkat, termasuk infrastruktur energi yang dianggap menjadi penopang utama negara tersebut.
“Kita bisa menghancurkan jembatan mereka dalam satu jam, kita bisa memutus pasokan energi mereka. Mereka tidak punya uang sekarang. Kita belum memberi mereka uang,” ujarnya.
Ultimatum tersebut muncul setelah putaran terbaru perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa menghasilkan terobosan berarti. Negosiasi yang berlangsung di tengah masa gencatan senjata selama 60 hari sebelumnya diharapkan menjadi pintu masuk bagi penyelesaian diplomatik pasca konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan Trump langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menilai ancaman tersebut tidak akan memengaruhi sikap negaranya dan menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat sebagai sesuatu yang tidak realistis.
“Rakyat Iran tidak terbiasa dengan bahasa ancaman. Jadi, bicaralah kepada rakyat Iran dengan hormat. Jika tidak, kami akan membalas dengan bahasa lain,” tegas Zolqadr.
Di tengah meningkatnya perang pernyataan, situasi di Iran juga masih dipenuhi suasana duka setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dimulai pada akhir pekan lalu. Meski menghadapi tekanan pasca konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, masyarakat Iran dinilai tetap menunjukkan solidaritas serta tekad untuk menghadapi tekanan dari luar.
Sebelumnya, Washington berharap gencatan senjata selama 60 hari dapat membuka kembali jalur diplomasi sekaligus mendorong Iran menghentikan pengembangan program persenjataan nuklirnya. Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan.
Kondisi tersebut membuat hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali berada di persimpangan. Di satu sisi, peluang penyelesaian melalui diplomasi masih terbuka, namun di sisi lain ancaman konfrontasi militer kembali membayangi apabila proses negosiasi terus mengalami kebuntuan.