Mengetahui beberapa jenis dari phobia
Phobia atau banyak juga yang mengatakan dengan istilah Fobia adalah perasaan takut yang berlebihan terhadap suatu hal. Seperti terhadap salah satu objek ataupun subjek. Meskipun fobia tidak akan memberikan efek terhadap fisik seseorang, tapi secara berkelanjutan akan memiliki efek menciptakan terkuncinya mental seseorang, yang di sebut dengan istilah Fiksasi. Hal tersebut dikarena ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan rasa takutnya yang sangat berlebihan. Di balik efek tersebut, fiksasi juga dapat diakibatkan karena faktor trauma. Jenis-jenis phobia sebenarnya dikategorikan menjadi beberapa kategori, ada beberapa info tentang fobia yang secara umum dapat kita temui dalam kehidupan ataupun lingkungan sekitar.
Agoraphobia yang berasal dari kata Agora di ambil dari sebuah nama tempat yang menjadi tempat pertemuan pada zaman Yunani kuno. Dan hingga sekarang ini istilah Agoraphobia menggambarkan seseorang yang takut terhadap / berada di tempat ramai. Bagi penderita agoraphobia akan merasa cemas bila berada di tengah-tengah kerumunan banyak orang, dan ketika di sekelilingnya jumlah orang semakin bertambah, maka ia akan mengambil keputusan untuk menghindar. Karena itu biasa orang yang menderita Agoraphobia kenapa sih lebih menyukai sendiri.
Phobia ini sering dikenal dengan nama “Ofidiofobia atau Ophiophobia”. Ini merupakan jenis phobia yang paling sering dijumpai. Ketakutan secara berlebihan pada ular dikaitkan pada kemampuan nenek moyang kita bertahan di alam liar. Ular sejak dulu dianggap hewan berbisa, menjijikkan, dari masa ke masa. Bahkan juga diidentikkan dengan setan oleh keyakinan tertentu.
Phobia ini sering disebut “arachnophobia”. Ditemukan bahwa kaum perempuan empat kali lipat lebih banyak jumlahnya yang takut atau jijik pada laba-laba daripada kaum lelaki. Pada studi yang dipublikasikan di jurnal Evolution and Human Behavior, David Rakison dari Carnegie Mellon University di Pittsburgh mengatakan bahwa bayi perempuan usia 11 bulan mampu mengekspresikan ketakutan begitu melihat gambar laba-laba dan ular, sedangkan bayi lelaki tidak. Teori evolusi mengatakan bahwa hal itu wajar, sebab kaum perempuan sering bersua laba-laba di rumah, atau saat mereka menyiapkan makanan di dapur. Sedangkan kaum lelaki cenderung diajarkan untuk berani pada hewan tersebut ketika berada di alam liar.
Diperkirakan sebagnyak 3-5% dari seluruh populasi dunia menderita akrophobia, takut berada di tempat tinggi. Pada riset yang pernah dilakukan, penderita akrophobia merasa semua tempat tinggi berjarak lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Misalnya tinggi sebenarnya hanya 3 meter, maka di mata penderita akrophobia, mereka seperti melihat obyek yang tingginya 6 meter.
Takut pada kegelapan yang diderita anak-anak ternyata adalah phobia paling umum juga. Secara normal, ketakutan ini akan hilang seiring dengan bertambahnya usia. Namun jika hingga usia dewasa kita masih menderita ketakutan pada gelap, maka artinya kita menderita nyctophobia.
Dalam bahasa Yunani, bronte memiliki arti petir. Bagi penderita Brontophobia biasanya akan cenderung memilih berdiam diri di rumah pada saat hujan yang disertai petir. Banyak hal spontan yang bisa kamu lihat dari penderita Brontophobia. Seperti menutup telinga dengan bantal, berlindung di sudut ruangan, atau bersembunyi di bawah meja dengan tujuan agar dirinya terhindar dari petir.
Phobia ini termasuk juga ketakutan terhadap darah (hemophobia) dan juga jarum suntik (trypanophobia). Bagi penderita phobia rasa sakit ini dapat mengalami kondisi yang drop ketika mereka melihat objek tepat dihadapannya. Seperti pusing, mual, kehilangan keseimbangan, bahkan hingga pingsan.
Ementophobia terpengaruh karena pikiran. Biasanya yang mengalami Ementophobia akan terpengaruh terhadap apa yang dilihatnya secara langsung, dan hal tersebut di kirimkan melalui otak serta di proses dengan sangat cepat. Sehingga mungkin kamu pernah merasakan, ketika melihat seseorang muntah, secara tidak langsung kamu akan merasakan ingin muntah atau merasa mual. (arf)

