Jokowi Minta Kebakaran Hutan dan Lahan Dihentikan Secepatnya
Presiden Joko Widodo (Jokowi) prihatin atas kembali terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun ini, bahkan ada kecendrungan kebakaran bakal meluas. Jokowi menegaskan kini saatnya kebakaran hutan dan lahan harus dihentikan. Semua pihak harus bahu membahu mengatasi persoalan yang terjadi hampir setiap tahun ini.
“Saya ingatkan kembali bahwa kejadian kebakaran (hutan dan lahan) seperti yang lalu-lalu harus sudah berhenti,” tegas Jokowi di sela-sela kunjungan kerjanya ke Solo, Rabu, 8 Agustus 2017.
Menurut Jokowi penyelesaiaan persoalan ini kini berada di tangan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto. Jokowi telah meminta Wiranto untuk segera mengumpulkan Pangdam, Kapolda, Danrem, Kapolres hingga Kepala Daerah dari daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan . Jokowi menilai pengumpulan para pejabat daerah maupun pejabat TNI dan Polri penting untuk menyatukan solusi mengatasi persoalan ini. Jokowi juga akan segera menggelar rapat terbatas membahas kebakaran hutan dan lahan.
“Ya, ini secepat-cepatnya saya sudah memerintahkan Menko Polhukam untuk mengundang pangdam, kapolda, danrem, kapolres, dandim, dan kepala daerah untuk saya ingatkan kembali, bahwa kejadian kebakaran seperti yang lalu-lalu harus sudah stop,” ucap Jokowi.
Sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya telah mengatakan bahwa dirinya juga telah berkoordinasi dengan Wiranto terkait hal ini. Koordinasi antar semua petinggi di masing-masing lembaga harus dilakukan secepat mungkin guna meminimalisir kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas.
Dari data sebaran jumlah titik panas yang terdeteksi melalui satelit NOAA, pada 2017 titik panas memang mengalmi peningkatan signifikan dibandingkan 2016.
Hingga awal Agustu 2017 terpantau terdapat 1.341 titik panas yang tersebar di sembilan provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada Juli 2015 terdapat 2.403 titik panas. Angka ini menurun drastik pada 2016 dengan 243. Namun, pada 2017 angkanya telah menyentuh 558 titik panas, atau dua kali lipat.
