Indonesia Kembali Ekspor Bawang Merah ke Thailand dan Singapura

0
20170828WhatsApp_Image_2017-08-28_at_15.27.41

Kementerian Pertanian (Kementan)  mengklaim Indonesia telah berhasil melakukan swasembada bawang merah. Keberhasilan itu dibuktikan dengan kembali diekspor sebanyak 9 kontainer atau 247,5 ton bawang merah ke Thailand dan Singapura. Ekspor ini merupakan ekspor kedua yang dilakukan Kementan, sebelumnya  ekspor perdana sudah dilakukan pada tanggal 18 Agustus 2017  lalu. Saat itu, Indonesia mengekspor bawang merah ke Vietnam, Taiwan, Malaysia, Timor Leste dan negara lainnya sebanyak 12 kontainer.

Nilai ekspor kedua ini diperkirakan  mencapai US$  436.000 Singapura atau setara Rp 4,7 miliar.  Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono mengatakan hal ini membuktikan Indonesia tidak hanya berhasil mewujudkan swasembada bawang merah, tetapi juga berhasil mewujudkan kedaulatan bawang merah.

“Kita patut bersyukur dan berbangga hati, bahwa saat ini Indonesia tidak hanya telah mewujudkan swasembada bawang merah, tapi telah mampu mencapai kedaulatan bawang merah. Hari ini kita lepas ekspor yang kedua selama bulan Agustus tahun ini dari Surabaya ke Thailand dan Singapura,” kata Spudnik di Surabaya, dalam siaran pers Kementan, Senin, 28 Agustus 2017.

Pada tahun 2014, Indonesia masih mengimpor bawang merah untuk konsumsi dan benih sebesar 74.903 ton dan 17.429 ton di tahun 2015. Namun pada tahun 2016 impor bawang merah konsumsi sudah dihentikan, bahkan Indonesia mampu mengekspor bawang merah sebesar 735 ton. Spundik menilai ini adalah pencapaian yang berbuah manis karena Indonesia berhasil sebagai raja ekspor bawang merah.

“Ini pencapaian yang luar biasa dari kinerja kita bersama di bawah komando Bapak Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Prestasi ini tentunya harus kita pertahankan dan tingkatkan di masa-masa mendatang. Tidak ada lagi kata impor, tapi kita terus ekspor,” ujar Spudnik.

Optimisme volume ekspor meningkat

Spudnik pun  optimistis volume ekspor bawang merah dapat terus meningkat dan negara yang disasar pun bukan hanya Asia Tenggara namun akan menjangkau ke lintas benua.  Karena itu, potensi untuk mengembangkan bawang merah tidak boleh berhenti  dan terus melakukan produksi agar Negara tetangga tetap mengunakan Indonesia sebagai produsen bawang merah.
“Sentra produksi yang semula terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa, saat ini sudah mulai menyebar ke berbagai daerah seperti Bima, Solok, Enrekang, Bantaeng, Tapin, Maluku Tengah dan masih banyak lagi daerah lainnya,” ungkap Spudnik.

Pada tahun 2016 luas panen bawang merah mencapai 149,6 ribu ha dengan produksi mencapai 1,45 juta ton serta luas tanam naik menjadi 22,5 persen dari tahun sebelumnya.

Tahun ini target produksi bawang merah naik 17,7 persen dari tahun lalu.

“Dengan jumlah produksi tersebut kita dapat memenuhi sendiri kebutuhan di dalam negeri 1,1 juta ton per tahun atau rata-rata sekitar 88.000 ton per bulan,” sebut dia.

Sementara, Kepala Satuan Tugas (Satgas) Pangan Jawa Timur, Kombes Widodo, menyatakan pihaknya siap mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan stok bawang merah.

“Caranya, pertama-tama melakukan pemantauan di lapangan dengan menerjunkan personel Polda, Polres, sampai Polsek ke sejumlah titik secara bersamaan. Jadi, kita menjaga kesejahteraan petani, pedagang, dan konsumen melalui upaya-upaya di lapangan, tidak bisa hanya melihat data,” kata Widodo.

Selain itu, untuk mengatasi selunduoan Satgas Pangan telah melakukan pemetaan komoditas pangan yang berpotensi masuk dengan cara ilegal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *