Desa-desa di NTT Didorong Untuk Bangun Tempat Penginapan
Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dispar NTT) fokus untuk mengembangkan desa-desa wisata yang dapat memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi wisatawan. Karena itu, Dispar NTT akan mendorong desa-desar di NTT untuk membangun tempat penginapan yang bersahabat untuk wisatawan. Selain bermanfaat bagi wisatawan, tempat penginapan di desa juga memiliki nilai lebih bagi desa itu sendiri dari sisi perekonomiannya.
“Kalau semua desa wisata kita di NTT memiliki penginapan, yang ditata dengan baik dan nyaman, maka wisatawan bisa berlama-lama ketika berkunjung di sini. Untuk itu, saya mendorong agar semua memilikinya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu, Senin, 26 Maret 2018.
Marius menjelaskan data dari Dispar NTT tercatat ada lebih dari 150 desa wisata yang menyebar di 22 kabupaten dan kota di Pulau Timor, Flores, Sumba, Alor, Sabu Raijua, dan Rote Ndao. Tempat penginapan tersebut telah didukung dengan destinasi wisata yang menarik, baik wisata alamnya maupun wisata budayanya
“Kita kaya akan desa-desa wisata yang menyebar di setiap kabupaten dan kota. Hanya saja perlu diperkuat lagi infrastruktur, seperti penginapan dan saran serta prasarana lainnya,” ujar Marius.
Marius menyayangkan jika peluang ini tidak dimanfaatkan oleh warga desa, pasalnya kini wisatawan tertarik untuk mengunjungi desa wisata. Biasanya wisatawan selalu bermalam saat mengunjungi desa wisata.
Tempat penginapan yang disediakan tidak perlu mewah seperti hotel berbintang. Yang terpenting adalah tempat tersebut layak untuk menginap, utamanya selalu bersih dan juga mempertahankan keaslian serta nilai-nilai budayanya
“Tidak perlu penginapan berkelas, tetap bangunan rumah tradisional yang ada tapi ditatah secara rapi, kebersihannya dijaga, sediakan toilet, dan tempat tidur yang nyaman,” kata Marius.
Marius mengaku Dispar NTT tidak dapat mendukung penuh secara financial, pasalnya anggaran yang dimiliki Dispar NTT terbatas. Karena itu, dibutuhkan bantuan dari pemerintah di setiap desa untuk mengucurkan anggarannya membuat tempat penginapan di desa. Pemerintah di desa dapat memanfaatkan dana desa untuk membantu program ini.
“Tahun ini kami hanya kelola dana sekitar Rp15 miliar untuk semua kegiatan, sehingga masih sangat kecil kalau kita mau mengembangkan ratusan desa wisata di NTT,” ujar Marius.
Pemerintah provinsi, lanjut Marius, dalam APBD tahun 2014 lalu mengalokasikan dana hibah sebesar Rp2,5 miliar untuk mendukung program desa wisata di provinsi berbasiskan kepulauan ini.
Dana tersebut disalurkan untuk 50 desa wisata, masing-masing desa akan mendapat alokasi dana sebesar Rp50 juta.
“Jumlah desa wisata terus bertambah. Sebaiknya pemerintah desa memanfaatkan alokasi anggaran dana desa dari kabupaten maupun pusat yang nilainya mencapai miliaran rupiah untuk setiap desa,” pungkas Marius. (Sumber Antara)
