Long Weekend, Okupansi Hotel di Kota Yogyakarta Meningkat 100 Persen
Hotel-hotel di Kota Yogyakarta ketiban rezeki saat libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan libur perayaan Paskah. Okupansi atau tingkat hunian hotel pada libur panjang akhir pekan kenaikannya cukup signifikan yakni mencapai 100 persen. Apalagi hotel-hotel di kawasan Malioboro yang nyaris tidak ada sisa, hanya bintang lima itupun kamarnya kelas suite room.
“Untuk di ring satu (kawasan Malioboro) sudah penuh bahkan tinggal ‘suite room‘ untuk yang bintang lima,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Istijab M Danunagoro di Yogyakarta, Minggu, 1 April 2018.
Bukan hanya hotel berbintang, hotel non bintang pun siap menampung wisatawan yang tidak kebagian kamar di hotel berbintang. Akibatnya hotel non bintang juga laris dipesan meskipun belum semuanya terjual. hingga saat ini, menurut Istijab, kamar hotel nonbintang masih tersisa 49-59 persen
.Meskipun juga mengalami lonjakan okupansi, hingga saat ini, menurut dia, kamar hotel nonbintang masih tersisa 49-59 persen. Menurut Istijab, selain di zona ring satu yang berada di kawasan Malioboro, tingginya okupansi juga terjadi di zona ring dua yang ada di kawasan Tugu Yogyakarta yang mencapai 70 persen dan zona ring tiga di kawasan Jalan Kaliurang yang mencapai 50 persen. “Karena saat ini masih dalam masa ‘low season‘ atau musim sepi kunjungan, diperkirakan okupansi hotel baik bintang maupun nonbintang (melati) rata-rata akan mengalami penurunan kembali menjadi 40-50 persen pada Senin (2/4),” kata dia.
Jika dibandingkan tren kenaikan okupansi rata-rata hotel di DIY pada tahun-tahun lalu, okupansi rata-rata hotel pada libur Paskah saat ini masih lebih rendah. Hal itu, menurut dia, disebabkan jumlah hotel yang sudah cukup banyak di DIY. Dengan jumlah hotel yang banyak, masing-masing hotel harus berbagi “kue pengunjung” sehingga okupansi tidak terlalu tinggi.
Saat ini terdapat 166 hotel berbintang dan 1.030 hotel nonbintang. Sekitar 60 persen hotel berada di Kota Yogyakarta dan sisanya berada di kabupaten lain di DIY.
“Program ‘Meeting, Incentive, Converence, and Exhibition‘ atau MICE masih menjadi andalan kami untuk menjaga stabilitas tingkat kunjungan,” (Sumber Antara)