Pertemuan IMF dan Bank Dunia, Diprediksi Dongkrak Perekonomian Bali 6,4 Persen
Pada Oktober 2018, Bali bakal kedatangan belasan ribu delegasi dari ratusan negara. Para delegasi itu akan mengikuti pertemuan ekonomi terbesar di dunia yakni Annual Meeting IMF dan World Bank. Diprediksi pertemuan ini dapat mendongkrak perekonomian Pulau Dewata.
Pemerintah Provinsi Bali memproyeksikan pertemuan IMF dan World Bank dapat menaikan pertumbuhan ekonomi daerah di tahun 2018 di kisaran 6 hingga 6,4 persen. Jika ini terjadi maka ada peningkatan pertumbuhan ekonomi Bali dari tahun sebelumnya.
“Kalau tahun 2017, kita sempat mengalami perlambatan, maka perekonomian Bali tahun ini akan membaik dan diperkirakan tumbuh sebesar 6-6,4 persen,” kata Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Bali Nengah Laba saat berbicara di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), di Denpasar, Minggu, 1 April 2018.
Nengah Laba mengatakan pariwisata menjadi leading sektor di Bali. Jika sektor ini tidak bergerak maka pertumbuhan ekonomi di Bali juga tidak bergerak ke atas. Hal itu pernah dirasakan Bali saat erupsi Gunung Agung pada akhir tahun 2017. Saat itu, perekonomian Bali yang ditopang sektor pariwisata sangat terpengaruh dengan erupsi Gunung Agung.
“Erupsi Gunung Agung menurunkan kunjungan wisatawan dan berpengaruh terhadap perekonomian Bali secara keseluruhan,” ujarnya.
Akibat bencana itu, pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2017 merosot dan lebih kecil dibandingkan tahun 2016. Tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Bali hanya 5,59 persen sedangkan di tahun 2016 mencapai 6,32 persen.
Selain itu tersendatnya bahan bangunan juga berpengaruh terhadap perekonomian. Di samping tahun lalu juga terjadi peningkatan inflasi dari 2,69 menjadi 3,32 persen. Ini terjadi karena adanya kenaikan tarif dasar listrik.
Namun untuk 2018, Laba optimistis pertumbuhan ekonomi Bali akan membaik. Salah satunya karena akan dilaksanakannya pertemuan IMF-World Bank pada bulan Oktober yang akan dihadiri sekitar 15 ribu delegasi dari 189 negara.
“Ini tentunya jika kita menjaga keamanan Bali dan ikut berpartisipasi serta terlibat dalam kegiatan ini,” ucapnya.
Terkait dengan ketergantungan Bali terhadap pariwisata, Laba mengajak untuk mulai mempertimbangkan sektor-sektor perekonomian baru, khususnya yang berorientasi ekspor.
Sementara itu, mahasiswi Universitas Dwijendra Ni Made Mita Septiani yang berorasi di PB3AS menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya ini akan mendukung kenyamanan wisatawan sesuai dengan Tujuh Sapta Pesona. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk turut menyukseskan program “Bali Clean and Green” sebagai bagian dari menciptakan Bali Green Province.
“Tidak perlu banyak kata motivasi untuk mewujudkan. Tetapi yang penting aksi kecil seperti buang sampah pada tempatnya,” ucap Mita.
