Hari Ini, Airnav Operasikan Menara Berjalan Untuk Bandara Mutiara SIS Al jufri, Palu
Menara Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu menjadi salah satu infratruktur yang rusak akibat gempa dan tsunami yang menerja Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Kerusakan menara terjadi diantaranya pada bagian platform dan kondisinya juga mengalami kemiringan.
Untuk mengoperasionalkan menara, Lembaga Pelayanan Navigasi Penerbangan Airnav Indonesia mengirim menara berjalan (mobile tower) guna melayani lalu lintas penerbangan baik dari atau menuju Bandara Mutiara SIS Al Jufri. Menara berjalan ini, juga menggantikan menara darurat yang sepekan digunakan pasca bencana terjadi.
Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Royanto menjelaskan menara berjalan sudah diambil oleh pihak Airnav di Pelabuhan Pantolan, Palu. Menara ini, tiba di Pelabuhan Pantolan pada Jumat, 5 Oktober 2018 lalu.
“Begitu tiba di bandara, tim teknik AirNav langsung bekerja,” kata Novie dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Oktober 2018.
Novie mengatakan dirinya telah menugaskan Direktur Teknik Ahmad Aulia memimpin penyetingan menara dan memastikan menara dapat berfungsi dengan baik. Untuk lokasi menaran berjalan ditempatkan di posisi menara lama.
Novie mengatakan tim kemudian menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan seperti jaringan sumber daya listrik dan jaringan telepon dan kemudian menaikkan “cabin tower” sesuai ketinggian yang dibutuhkan karena berada di lokasi gempa, dilakukan juga tes kestabilan kabin.
Tahapan selanjutnya adalah melakukan pengaturan frekuensi seperti frekuensi di menara saat ini, uji coba jangkauan peralatan VHF yang ada di kabin, serta memasang fasilitas komunikasi “ground to ground” untuk koordinasi.
Seluruh proses pemasangan ini dilakukan ekstra hati-hati sebab tidak boleh mengganggu operasional menara darurat yang beroperasi 24 jam.
Novie mengatakan tahap paling akhir adalah melakukan uji coba operasional setelah melakukan serangkaian uji coba, pelayanan navigasi akhirnya dipindah ke menara berjalan mulai, Senin pagi, 8 Oktobet 2018.
“Pelayanan melalui mobile tower ini memiliki keunggulan dari tower darurat sebelumnya. Dilengkapi sejumlah peralatan canggih, jangkauan radio VHF di atas 100NM yang membuat jangkauan komunikasi lebih luas sehingga mempercepat komunikasi tower dengan pesawat, ” katanya
Untuk petugas pemandu navigasi, menara berjalan ini juga lebih bersahabat karena dimensi kabin dengan panjang 6,058 meter, lebar 2,438 meter dan tinggi 2,438 meter membuat ruang gerak petugas lebih leluasa.
Selain itu kabin juga dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan, meja pengendali, head set/hand microphone, perekam, lampu tembak sinyal, lampu darurat serta pendingin ruangan.
Hal ini dibutuhkan agar petugas ATC dapat konsentrasi sepenuhnya dalam melayani penerbangan, mengingat kepadatan penerbangan di Bandara Palu yang meningkat sangat signifikan.
Sebelum bencana, setiap harinya maksimal hanya ada 35 penerbangan yang dilayani, namun saat ini setiap harinya hampir 200 penerbangan dari dan ke Palu yang dilayani oleh AirNav Indonesia.
“Kita harus bekerja keras memastikan layanan navigasi penerbangan berfungsi kembali sehingga penerbangan dapat dibuka. Palu tidak boleh terisolasi. Bantuan dan penanganan bencana sangat bergantung kepada bandara,” ujar Novie. (Sumber Antara)
