Tenun Ikat Flores Hadir di Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018
Kelompok perajin, terdiri dari ibu-ibu, hadir di counter khusus Usaha Kecil Menengah (UKM) di lobi Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Mereka memamerkan beragam hasil tenunan menarik bagi para delegasi yang menghadiri Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF)-Word Bank 2018 di Nusadua Bali.
Selain agenda-agenda resmi yang telah ditetapkan panitia, juga hadir beberapa stand pelaku UKM dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka umumnya disponsori oleh pemerintah daerah setempat dan sejumlah donator di daerah asalnya.
Salah satunya adalah kelompok Lepo Lorun, perajin tenun ikat tradisional asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Untuk menghasilkan satu kain tenun yang panjangnya 3 meter dan lebar 120 cm ini, kami harus menyelesaikannya selama 6 bulan,” kata Elisabet (42 th), sambil terus memainkan alat tenunnya, Senin, 8 Oktober 2018.
Kenapa bisa selama ini? Ibu berputra dua ini menuturkan, karena tenun ikat Flores yang ia buat merupakan tenun tradisional yang diolah dari bahan-bahan alami yang tumbuh di Flores. “Proses produksinya dimulai dari memetik kapas, memilah dan membersihkan kapas dari biji, memintal kapas menjadi benang, pewarnaan benang dengan pewarna alami hingga 5 sampai 6 kali celupan, misalnya untuk warna biru menggunakan daun nila. Kemudian benang dijemur sampai kering, baru dimulai proses menenun. Karena proses ini dilakukan secara tradisional, tanpa mesin, sehingga memerlukan waktu 6 bulan untuk menyelesaikan 1 kain,” terang Elisabet.
Karenanya, harga kain tenun ikat Flores dari tangan perajin saja sudah mencapai Rp 10 juta per kain. Meski begitu, kelompok perajin ini juga tetap memproduksi kain tenun ikat yang diolah dari benang yang sudah ada di pasar. Untuk tenun ikat jenis ini, harganya sekitar Rp 3 – 5 juta per kain karena proses produksinya hanya 1 – 2 bulan.
Selain itu, ke-13 ibu-ibu pengrajin kelompok Lepo Loren ini juga akan tampil membawakan sejumlah kesenian tradisional Flores di panggung terbuka yang berada di depan lobby BNDCC. Mereka akan menyuguhkan tarian tradisional “Hegong” dan musik “Gong Vaning” pada hari Selasa, 9 Oktober 2018.
Di kampung halamannya, Flores, kelompok Lepo Lorun yang jumlah anggotanya sebanyak 50 ibu-ibu ini, selain memproduksi tenun juga berlatih kesenian tradisional setempat. Ini semua merupakan upaya untuk menjaga dan melestasikan buaya setempat.
Penyelenggaraan Annual Meeting IMF-WB 2018 di Nusadua Bali diikuti oleh sekitar 34 ribu peserta yang terdiri dari Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dari 189 negara, sektor privat, NGOs, akademisi, dan media. (Sumber Annual Meeting IMF-WBG)
