Headline News

Akulturasi Budaya di Solo bisa Dicontoh

Akulturasi budaya atau perpaduan budaya yang kemudian menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan unsur-unsur asli, saat berlangsung pesta rakyat ribuan lampion di kawasan Pasar Gedhe, Solo bisa ditiru untuk diterapkan di daerah lainnya.

“Akulturasi budaya dengan semangat Bhineka Tunggal Ika menunjukkan masyarakat Surakarta telah dewasa menyikapi segala permasalahan baik sosial, ekonomi termasuk politik,” ujar Calon Legislatif (Caleg) Daerah Pemilihan V Jawa Tengah, K.R.A.T Henry Indraguna, saat blusukan di lokasi 5.000 lampion dan patung shio dengan lampu yang berwarna-warni di kawasan Pasar Gedhe, Solo, Senin (28/1/2019) malam.

Menurut KRAT Henry, akulturasi budaya baik secara teori maupun praktik berjalan seiring dan saling melengkapi antara budaya Jawa dengan budaya Tionghoa terjadi di Solo Raya. “Saya yang dibesarkan di Solo , tahu di Solo ada organisasi sosial bernama Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Uniknya anggota PMS yang membaur terdiri dari kalangan Jawa mempelajari budaya Tionghoa seperti Barongsai, wayang Po The Hi.

Sementara anggota dari kalangan Tionghoa dengan luwes belajar kerawitan bahkan dengan trampil mementaskan kesenian wayang orang,” papar Henry. Dengan bersosialisasi dan membaur, tidak ada lagi sekat-sekat psikologis. ” Bahkan menimbulkan rasa saling empati. Kedua belah pihak berkomunikasi dari hati ke hati,” ujar Henry yang malam kemarin merasa bisa berkomunikasi dari hati ke hati dengan Ngatimin (78) alias Mbah Semprong, penjual mainan Imlek yang bersemangat tetap berjualan mainan meski sudah uzur.

Henry yang dikenal sebagai pengacara papan atas di Jakarta itu merasa tersentuh dengan celetukkan lugu menggunakan bahasa Jawa yang dilontarkan mbah Semprong. ” Urip niku urup”.Hidup itu baru berarti kalau bermanfaat bagi orang lain. “Uripmu iso dawa umurmu yen laku sareh” Hidupmu bisa berusia panjang kalau sabar, menerima kondisi apapun, dan selalu mensyukuri hidup.”tutur mbah Semprong.

Menurut Henry, dirinya banyak mendapat sari pati tentang hidup dan kehidupan dari mbah Semprong. “Orang kota besar, mungkin tidak mengira ada pria sepuh masih bersemangat tinggi berjualan mainan Imlek, tapi filosofinya dia bukan sekadar mencari uang tapi agar berguna bagi orang lain,” ujar Henry.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close