Lifestyle

Aswin Siregar, Pencipta Manusia Listrik

Semakin menjamurnya komik-komik buatan lokal menunjukkan para komikus Indonesia tengah mengembangkan sayapnya.  Beberapa dari mereka terinspirasi oleh manga (komik Jepang). Sebagian lainnya mendapatkan inspirasi dari komik buatan negara-negara barat. Begitu juga Aswin MC Siregar, kegemarannya membaca komik dan menggambar sejak kecil, membuat dirinyanya mendirikan perusahaan komik sendiri.

Aswin memulai karirnya sebagai komikus bemula dari kegemarannya menggambar pada saat di bangku SMP. Pada saat itu dirinya membuat cerita bergambar dan diperbanyak dalam lingkungan sekolah saja. Tidak hanya itu, pria yang terinpirasi dari gambar Jack Kirby dan Oliver Coipel ini juga sempat bergabung dalam suatu project komik pada saat duduk dibangku kuliah, dan komik tersebut diterbitkan di Amerika.

1 - Copy Valentine Cover 3

Tidak hanya itu saja, karir professional Aswin sebagai komikus terjadi pada tahun 2012 dengan mendirikan perusahaan komik yang bernama Skylar Comics. “Saat itu saya bersama  Marcelino Lefrandt dan Sarjono Sutrisno mendirikan perusahaan. Karya komik pertama yang kami rilis berjudul ‘VOLT’, karakter itu diciptakan oleh saya dan Marcelino Leftandt,” terang Aswin. Volt sendiri merupakan superhero asal Indonesia dengan kekuatan supernya yang berwujud listrik yang berupaya terus memerangi kejahatan.

Saat ini Aswin sudah merilis beberapa judul komik selain Volt yaitu  Jawara Indonesia, cerita bergambar Tiga Putri Pelangi, dan yang terakhir Valentine. Karya terakhir Aswin yang berjudul Valentine terasa sangat spesial, hal itu dikarenakan  dibuat versi live actionnya dan ia sendiri yang memproduseri untuk layar lebarnya dan akan dirilis tahun depan.

Perjalanan Aswin tidak serta merta mulus begitu saja, banyak momen-momen yang menurutnya menjadi hal yang sulit dilupakan dalam perjalanan karirnya. “Jadi waktu itu saya mengerjakan Volt edisi kolektor, dan saya mengerjakan komik itu sendirian dari konsep cerita, gambar,warna ,sampe proses penulisan teks, seharusnya semua itu biasa di buat oleh tim dalam pengerjaan sebuah komik. Tetapi saya belum memiliki tim, sehingga saya kerjakan sendiri selama 3 bulan,” tuturnya.

Perkembangan komik Indonesia saat ini kembali berjaya, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sebagaimana dicapai tahun 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Tanpa kerja lebih keras, komik Indonesia hanya asyik dalam komunitasnya. Sementara pasar dan toko-tokoh buku di kota-kota besar di negeri ini disesaki oleh karya asing. Aswin pun berharap dengan perusahaanya yang dia jalani bersama rekannya bisa dikenal diseluruh dunia.

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button