Atasi Tingginya Harga Tiket Pesawat, Presiden Minta Harga Avtur Dihitung Lagi

0
Doorstop-Soal-Avtur

Tingginya harga bahan bakar pesawat atau avtur menjadi perhatian lebih Presiden Jokowi. Rabu siang (13/2/2019) Presiden telah memanggil pihak terkait termasuk Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk membahas masalah ini.

Dalam pertemuan itu, Presiden meminta pihak terkait untuk segera menghitung kembali harga avtur yang memiliki kontribusi besar bagi maskapai untuk menetapkan harga tiket.

“Tadi baru, tadi baru kita rapatkan. Saya sudah perintahkan untuk dihitung mana yang belum efisien, mana yang bisa diefisienkan, nanti akan segera diambil keputusan,” kata Presiden Jokowi menjawab wartawan usai melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Gubernur Jambi, dan para duta besar baru RI untuk negara sahabat, di Istana Negara, Jakarta, Rabu sore (13/2/2019).

Presiden akan mengambil keputusan, jika kalkulasi secara akurat sudah dilakukan oleh Kementerian/Lembaga terhadap harga avtur ini.

Mengenai opsi-opsi dalam perhitungan kembali harga avtur itu, Presiden Jokowi mengatakan, dirinya baru memerintahkan tadi untuk melihat membuat perhitungan, membuat kalkulasi.

“Ada opsi-opsi seperti apa baru disampaikan kepada saya, ya,” ujar Presiden.

Sebelumnya saat memberikan sambutan pada acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Ballroom Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/2/2018), Presiden Jokowi mengaku telah menerima banyak keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan di dalam negeri.

Menurut Presiden, tingginya harga tiket pesawat ini karena harga bahan bakar pesawat yaitu avtur di Indonesia ternyata sangat mahal.

“Saya terus terang juga kaget, dan malam hari ini juga saya baru tahu tadi dari Pak Chairul Tanjung mengenai avtur. Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta itu dimonopoli oleh Pertamina sendiri,” kata Presiden saat itu.

Menurut Presiden, pilihannya hanya satu, harganya bisa sama dengan harga internasional. Kalau tidak bisa, lanjut Presiden, berarti pemerintah akan masukkan kompetitor yang lain sehingga terjadi kompetisi.

Ya pilihan-pilihannya kan hanya itu, sudah enggak ada yang lain. Karena memang, ini sangat-sangat mengganggu sekali,” tegas Presiden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *