Business

Beternak Ulat Sutera yang menguntungkan

Ulat Sutera

Hewan yang memiliki nama latin Bomyx mori atau yang lebih dikenal dengan sebutan ulat sutera merupakan hewan endemik asli Indonesia. Ulat yang berhabitat di iklim tropis tersebut merupakan hewan yang bisa dibudidayakan dan mampu mendatangkan keuntungan besar. Benang sutera memiliki segudang kelebihan antara lain sangat mudah menyerap keringat, sangat kuat, tidak menimbulkan alergi, tidak mudah luntur dan memiliki tekstur permikaan bahan yang sangat lembut. Menurut Bambang Muhamad Ishak pembudidaya ulat sutera asal Cianjur, pakaian yang terbuat dari bahan sutera dapat beradaptasi sesuai dengan suhu ruangan. Jika suhu sedang panas bahan sutera akan menjadi adem dikenakan, sebaliknya jika suhu sedang dingin bahan sutera akan menjadi hangat jika dikenakan. Persuteraan alam telah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya Cara berternak ulat sutra, jadi pemerintah lewat departemen kehutanan berusaha membina dan mengembangkan aktivitas persuteraan alam tersebut dengan Cara berternak ulat sutra.

Ulat sutera memiliki peluang bagus untuk saat ini, melihat permintaan akan kain sutera yang semakin hari semakin meningkat. Harga kain juga dapat dibilang tinggi, jadi bagi anda yang ingin membudidayakan ulat sutera tidak perlu khawatir potensi keuntungan yang akan anda dapatkan. Modal awal juga tidak terlalu besar, sehingga budidaya ulat sutera ini dapat sebagai solusi alternatif bagi wilayah-wilayah yang memiliki lahan kering atau lahan yang mengandalkan tadah hujan sebagai pengairannya. Kualitas dan kuantitas benang sutera yang dihasilkan sangat ditentukan oleh teknik pemeliharaan ulat yang dilakukan oleh petani sutera. Teknik pemeliharaan ulat sutera yang dilakukan sangat beragam yang didasarkan pada bibit ulat sutera yang digunakan, jenis daun murbei, tindakan desinfeksi, tempat pemeliharaan ulat dan alat pengokonan yang digunakan. Beragamnya teknik pemeliharaan ulat sutera yang dilakukan oleh petani tentunya akan berdampak pada besarnya biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diterima oleh petani sutera.

Untuk pertama yang dapat dilakukan adalah Tersedianya daun murbei jadi pakan dalam Cara berternak ulat sutra, area dan peralatan pemeliharaan dan pemesanan bibit/telur ulat sutera. Penyediaan daun murbei: daun murbei buat ulat kecil berusia pangkas 1 bln. dan buat ulat besar berusia pangkas 2-3 bln; tanaman murbei yang baru ditanam, bisa dipanen sesudah berusia 9 bln; buat pemeliharaan 1 boks ulat sutera, diperlukan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang; daun murbei type unggul dalam Cara berternak ulat sutra yang baik buat ulat sutera yaitu: morus alba, m. multicaulis, m. cathayana dan bnk-3 dan lebih dari satu type lain yang masih didalam pengujian oleh badan Cara berternak ulat sutra di indonesia. Pohon murbei, sebagai pakan ulat sutera, tidak memerlukan pengairan yang cukup banyak. Hanya saja, pada awal tanam untuk derah lahan kering, sebaiknya dimulai pada musim penghujan. Setelah tumbuh baik, selanjutnya hanya tinggal pemeliharaan, tanpa menguatirkan pengairannya.

Bibit ulat sutera merupakan salah satu faktor penting dalam pemeliharaan ulat sutera. Bibit ulat sutera yang berkualitas sangat menentukan produksi kokon yang akan dihasilkan. Pada pembibitan ulat sutera dilakukan pengujian dan sertifikasi bibit untuk mengidentifikasi apakah bibit tersebut mengandung penyakit yang dapat menurunkan produksi kokon sehingga kerugian yang akan dialami oleh petani sutera dapat dihindari. Area pemeliharaan ulat kecil dalam Cara berternak ulat sutra baiknya dipisahkan dari area pemeliharaan ulat besar ; pemeliharaan ulat kecil dikerjakan pada area spesial atau pada unit pemeliharaan ulat kecil (upuk); area pemeliharaan kudu memiliki ventilasai dan jendela yang cukup: bahan-bahan dan peralatan yang butuh disediakan yaitu: kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, area daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain; desinfeksi ruangan dan peralatan, dikerjakan 2-3 hari sebelum saat pemeliharaan ulat sutera diawali, memakai larutan kaporit 0, 5% atau formalin (2-3%), disemprotkan dengan merata; seandainya area pemeliharaan ulat kecil berbentuk upuk yang berlantai semen, jadi sesudah didesinfeksi dikerjakan pencucianseperti dalam Cara berternak ulat sutra.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button