Efek Domino Libur Lebaran, Pariwisata Sentuh Semua Lapisan
El John News, Jakarta-Momentum libur Lebaran dinilai bukan hanya meningkatkan pergerakan wisatawan, tetapi juga memberikan efek ekonomi berlapis hingga ke masyarakat lapisan bawah. Tokoh Pariwisata Nasional, M. Johnnie Sugiarto, menyebut sektor pariwisata sebagai industri yang paling luas menjangkau berbagai level ekonomi, dari pelaku usaha besar hingga masyarakat kecil.
Menurut Johnnie, tingginya mobilitas saat mudik yang melibatkan puluhan juta kendaraan menciptakan perputaran uang yang signifikan di berbagai destinasi. Hal tersebut disampaikan Johnni
“Pariwisata itu satu-satunya industri yang menyangkut hampir semua level. Bukan hanya hotel atau restoran besar, tapi tukang parkir, pedagang kecil, sampai petani dan peternak juga kebagian”
M. Johnnie Sugiarto (Tokoh Pariwisata Nasional)

“Pariwisata itu satu-satunya industri yang menyangkut hampir semua level. Bukan hanya hotel atau restoran besar, tapi tukang parkir, pedagang kecil, sampai petani dan peternak juga kebagian,” ujar Johnnie saat menjadi narasumber dalam program Point of View (POV) yang ditayangkan EL JOHN TV.
Founder & Chairman EL JOHN Indonesia ini menjelaskan, ketika wisatawan datang dan menginap di hotel, efeknya tidak berhenti di satu titik. Restoran membutuhkan pasokan bahan baku seperti sayur, daging, telur, dan ikan. Artinya, rantai pasok dari hulu ke hilir ikut bergerak.
“Yang punya hotel kebagian, yang pelihara ayam kebagian, yang tanam sayur kebagian, semuanya ikut merasakan dampaknya. Itu hebatnya pariwisata,” katanya.
Johnnie menambahkan, sektor ini bergerak dalam dua sisi sekaligus, baik bisnis ke konsumen maupun antar pelaku usaha. “B2C-nya jalan, B2B-nya juga jalan. Jadi efeknya berlapis dan merata,” tegasnya.
Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang yang menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk meraih dampak serupa jika momentum Lebaran dikelola secara profesional.
Namun demikian, Johnnie juga mengingatkan agar pelaku usaha tidak memanfaatkan musim libur untuk menaikkan harga secara tidak wajar. Berdasarkan pengalamannya saat menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan, ia pernah melakukan road show ke hotel dan restoran untuk mengingatkan agar harga tetap sesuai daftar resmi.
“Jangan sampai mumpung high season lalu menaikkan harga seenaknya. Menu harus jelas dan harga harus transparan. Kalau oportunistis, dampaknya jelek bagi usaha itu sendiri dan bagi daerahnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, praktik mencari keuntungan sesaat justru berpotensi merusak citra destinasi dalam jangka panjang. “Orang bisa kapok. Sekali mereka merasa mahal dan pelayanannya buruk, mereka enggan kembali. Jangan sampai karena satu dua pelaku, nama satu daerah jadi tercemar,” tutupnya.
