Headline NewsPageants

Esthy Reko Astuty Berikan Pembekalan Strategi Pemasaran di Era New Normal Kepada Finalis PPI 2020

34 finalis Putri Pariwisata Indonesia 2020 mulai mendapat pembekalan dari orang-orang yang berkompeten dibidang pariwisata maupun bidang lainnya yang berkaitan  kontes kecantikan dan wawasan, salah satu yang memberikan pembekalan yakni Civil Servant (retired)  Ministry of Tourism Dra. Esthy Reko Astuty, M.Si.  Pembekalan dari Esthy masuk di karantina virtual perdana pada Rabu (16/9/2020).

Materi yang disampaikan dalam  pembekalannya,  ini yakni mengenai strategi pemasaran ‘Strategi Pemasaran Pariwisata di Era New Normal’.   Esthy mengatakan strategi pemasaran ini penting dilakukan, kendati Indonesia sedang dilanda pandemi, apalagi saat ini sudah menuju era new normal. Bagi pada finalis strategi dapat diterapkan di daerah asal finalis untuk kembali membangkitkan sektor pariwisatanya.

“Dari  kondisi yang sekarang bagaimana kita menyikapi strategi pemasaran pariwisata ini, terutama buat para finalis untuk membantu daerahnya membangkitkan kembali sektor pariwisata, karena memang itu tujuan perwakilan kita di daerah salah satunya,” kata Esthy.

Esthy menjelaskan, pemasaran pariwisata tidak dapat lepas dari empat unsur yang harus dicapai, yakni targeting dan segmenting, kemudian positioning, lalu ada branding dan terakhir adalah selling. Namun unsur-unsur tersebut pelaksanaanya harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini,  atau dibuat semacam inovasi yang aman dari ancaman penyebaran Covid-19.

Untuk targeting dan segmenting, Esthy menerangkan bahwa  merujuk pada buku pemasaran, salah satunya yang ditulis Yuswohady, bahwa ada 30 perilaku konsumen di era new normal. Dari 30 itu, ada beberapa yang terkait dengan pariwisata.

Dari kondisi itu, yang paling menonjol adalah perubahan prilaku konsumen dari konvensional menjadi serba digital. “Sekarang orang lebih intens melihat  melihat promosi-promosi atau melakukan semua itu melalui digital, melalui online, virtual dan segala macam. Nah ini yang perlu menjadi pertimbangan, bagaimana target segmen kita tentunya pasti bukan konsumen yang gaptek atau tentunya pelanggan yang melek teknologi,” jelas Esthy.

Kemudian untuk positioning, Esthy menerangkan harus ada inovasi agar memiliki perbedaan dengan produk atau destinasi lainnya. Hal-hal yang perlu diangkat, seperti potensi yang dihasilkan destinasi, seni dan budaya yang dimiliki dan pelayanan SDM Pariwisatanya. Hal-hal tersebut harus ada inovasi yang dapat membikin orang penasaran untuk menyaksikan dan merasakan.

Selanjut unsur lainnya yakni branding. Untuk unsur ini, Esthy mengatakan bawah akibat pandemi, branding yang dimuat harus berubah agar dapat menciptakan citra dan juga dapat mengelola reputasi.

“Selain itu, branding harus dapat memberikan gambaran kepada konsumen atau wisatawan agar merasa aman kesehatannya dari wabah pandemi, serta nyaman dalam berwisata untuk mendapatkan sesuatu,” ujar Esthy.

Unsur yang terakhir adalah selling, menurut Esthy, untuk mengoptimalkan unsur ini,  harus  memperhatikan perilaku masyarakat dalam membeli. Ternyata faktanya kebanyakan orang membeli sesuatu melalui online

“Sekarang orang lebih banyak melakukan look  book   pay-nya melalui virtual, jadi ini yang mungkin perlu jadi pertimbangan pada saat kita melakukan penjualan. Jadi place itu di mana bagusnya dengan kondisi seperti ini, selayaknya kita harus menyesuaikan perilaku-perilaku yang terdampak akibat dari krisis pandemi ini. jadi gunakanlah, online,virtual atau saluran distribusi online lainnya untuk menawarkan produk sebagai suatu pilihan,” ungkap Esthy.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close