E-CommerceEconomicHeadline NewsTourism

Generasi Y dan Z Lebih Survive di Tengah Pandemi Covid-19

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat  jumlah penduduk Indonesia hingga 2020 didominasi generasi Z dan generasi Y atau yang dikenal dengan generasi milenial. Data ini didapatkan melalui Sensus Penduduk (SP) 2020 yang dilakukan secara online maupun tatap muka sepanjang Februari hingga September 2020.

Dari klasifikasi tersebut, Sensus Penduduk tahun  2020 menunjukkan, generasi Z mendominasi hingga 27,94 persen dari penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa. Artinya, sebanyak 75 juta penduduk Indonesia saat ini berasal dari generasi tersebut.

Sementara untuk generasi milenial mencapai 69,8 juta jiwa atau berkontribusi 25,87 persen terhadap penduduk Indonesia. Generasi milenial adalah generasi  yang lahir periode 1981-1996. Sedangkan Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada kurun tahun 1997-2012.Head of Quality Assurance Podomoro University Dr. Santi Palupi mengatakan bukan hanya di Indonesia, dominasi generasi  milenial dan Z juga terjadi pada penduduk dunia. Bahkan, Dosen senior di Podomoro University ini, mengatakan dua generasi ini lebih survive di tengah pandemi Covid-19.

“Yang bisa survive adalah dua generasi ini yakni generasi Z dan generasi Y. Karena dua generasi itu, usianya masih muda, tenaganya masih kuat dan mungkin kekebalan tubuhnya cepat ter-recovery. Nah bagaimana dengan generasi yang di atas itu, nah itu kita harus hati-hati,” kata Doktor Santi saat menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan World Tourism Day Indonesia Foundation dan Podomoro University. Webinar ini bertajuk  Healthy Hype Lifestyle: The Shifting of Gen-X & Millennial During the New Normal Era dan telah disiarkan langsung oleh EL JOHN TV dalam program Indonesia Tourism Forum (ITF).

Selain Doktor Santi, narasumber lain yang tampil dalam webinar ini, yakni Darma Batara (Sr Content & Promotion Strategis Manager Blibli.com), Clarissa Suharli (Digital Consulting Manager-Indonesia Marriot International) dan Angelita Kwan (Influencer-HBP Student Podomoro University)

 Meski kedua generasi ini memiliki potensi yang hebat, namun ada perbedaan karakter yang dimiliki setiap generasi diantaranya dari segi perilaku. Untuk perilaku  generasi milenial lebih terbuka dan suka berkolaborasi, berbeda dengan generasi Z yang cenderung tertutup dan lebih memilih mandiri, jika perlu lebih disukai ada kompetisi antara generasi Z. Tak hanya dari perilaku, namun dari karir pun, kedua generasi ini memiliki perbedaan yang mencolok.

“Generasi milenial ini sebagian masih mau bekerja dengan orang lain atau bekerja di perusahaan. Tapi 50 persennya lagi sudah mau berwirausaha. Sedangkan generasi Z itu sudah berani berwirausaha. Jadi nanti dia sudah gak mau ikut orang lagi. Cita-citanya saya ingin punya usaha ini, saya ingin punya bisnis ini, itu perbedaannya,” ungkap Doktor Santi seraya menambahkan dua generasi ini merupakan generasi yang familiar dengan hal yang berkaitan dengan digital salah satunya e-commerce.

“Kalau generasi milenial atau generasi Y, itu dia punya attention spend, kalau yang generasi Z itu attention spend-nya rendah. Kenapa ko bisa rendah, karena dia lahir internet, dari sosial media yang sudah menjadi bagian kehidupan kesehariannya dia, sehingga dia dengan cepat mendapatkan informasi dan dia bisa meneruskan ke sosial media atau ke internet yang lain,” ungkap Doktor Santi.

Sr Content & Promotion Strategis Manager Blibli.com Darma Batara membenarkan pernyataan yang disampaikan Dokter Santi terkait penggunaan e-commerce oleh dua generasi ini. Darma mengakui pengguna aktif Blibli kebanyakan adalah generasi milenial dan diikuti oleh generasi Z. Namun kendati demikian, keduanya juga punya karakter yang berbeda saat menggunakan platform e-commerce.

 “Benar kata ibu Santi, gen Z itu lebih idealis. Misalnya kaya traffic dia wara-wiri di platform blibli itu sering tapi untuk transaksinya rendah. Jadi gen-Z ini lebih saving, lebih idealis. Dia ga kemakan iklan, ga kemakan promosi. Jadi yang paling banyak bertransaksi itu milenial dalam arti mereka butuh eksistensi diri, mereka konsumtif,” kata Darma.

Sementara itu Digital Consulting Manager-Indonesia Marriot International Clarissa Suharli membenarkan pengguna internet pada tahun 2020 melonjak pesat. Dengan kondisi itu, Marriot juga beradaptasi dengan memanfaatkan channel-channel baru untuk melakukan pemasaran.

“Kami dari sini berusaha embrace dan open terhadap channel-channel baru yang ada, kalau misalnya hotel-hotel targetnya milenial mereka open, contohnya tiktok influencer, sekarang banyak untuk me-raising awareness juga dan mempromosikan apa yang sedang berjalan,” terang Clarissa.

Apa yang disampaikan ketiga narasumber ini mengenai perilaku milenial dibenarkan Angelita Kwan. Angelita yang menjadi seorang influencer ini mengakui dirinya menjadi pengguna media sosial aktif, apalagi di saat pandemi ini. Dalam bermedia sosial, Angelita selalu memposting hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak.

“Sebenarnya sebelum aku share, aku selalu terapin apa yang aku post itu harus bermanfaat bagi orang banyak. Karena , aku sangat selektif kan dalam meng-endorse brand ataupun produk. Soalnya dengan 30 ribuan followers, apalagi yang percaya sama review aku kan, kasian kalo emang mereka yang bener percaya tapi aku kaya asal-asalan,” kata mahasiswi semester 8 di Podomoro University ini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close