Economic

KADIN Dorong Ekspor Diperkuat Untuk Cari Peluang Baru di Tengah Pandemi

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menyebut pandemi Covid-19 bukan dijadikan hambatan, justru bencana kesehatan itu adalah tantangan  para pelaku usaha untuk berperan lebih dalam menstabilkan  perekenomian nasional. Agar hal itu tercapai,  maka pelaku usaha harus berlomba-lomba  ciptakan inovasi dan strategi agar peluang  baru dapat dicapai

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani dalam Jakarta Food Security Summit (JFSS) ke lima di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Shinta,  peluang baru di tengah pandemi kini mengarah ke ekspor. “Perlu ada dorongan agar pelaku usaha Indonesia dapat lebih berorientasi ekspor dan tidak hanya berfokus memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Shinta.

Shinta menilai, perlu memperkuat jalinan mitra dagang Indonesia, agar peluang ekspor dapat terjaga Shinta pun menyadari bahwa bukan hanya Indonesia saja, mitra negara lain yang menjadi mitra dagang Indonesia juga kini sedang mengalami masa sulit akibat pandemi, namun peluang ekspor menjadi solusi untuk menjaga perekonomian, baik perekonomian Indonesia maupun global.

Shinta juga tak mengelak jika mendorong ekspor di tengah pandemi bukan hal yang mudah, masih ada hambatan yakni di tarif dan nontarif. Hambatan biasanya dirasakan di komoditas  ekspor utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah, karet, dan produk perikanan.

“Hambatan non-tarif meliputi standar terkait sustainability, seperti IIU Fishing, standar tenaga kerja, dan perlindungan lingkungan; standar kesehatan dan keselamatan yang menyangkut toleransi polutan dan zat karionegen; serta standar kemasan,” ungka Shinta

Adapun hambatan tarif, Shinta melanjutkan, menyangkut besaran tarif dan akses. Penerapan hambatan tersebut  dibolehkan berdasarkan perjanjian GATT WTO dengan syarat tidak diskriminasi, diterapkan secara transparan dengan tolak ukur yang jelas, alasan penerapannya dapat dibuktikan secara scientific, dan persyaratan dapat dipenuhi secara reasonable.

Untuk mengatasi hambatan itu, menurut Shinta, KADIN merekomendasikan sejumlah cara, yakni yang pertama adalah produktivitas dan stabilisasi produksi dalam negeri harus ditingkatkan. Selain itu, perlu adanya kemauan untuk mereformasi sektor agrikultur  dan perikanan dengan perbaikan iklim usaha.

Kedua, pembenahan mistmatch input-output antara produksi pangan hulu dengan kebutuhan input industri makanan dan minuman dan pasar ekspor dari segi volume dan standar serta Sinergi & kerjasama antar elemen pemerintah.

“Ketiga, penguatan diplomasi dengan cara melakukan institutional reform pada institusi publik dan swasta yang bertanggung jawab atas promosi, perdagangan, dan investasi melalui kajian-kajian dan penguatan riset pasar. Kajian tersebut antara lain mencakup promosi, market intelligent, pengumpulan data dan informasi hambatan non-tariff termasuk regulasi teknis, standar, dan private standards, pengumpulan data usaha, business matching, dan pendampingan,” ungkap Shinta.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close