Marine TourismTourism

Kemenparekraf Ajak Pelaku Usaha Wisata Selam Terapkan Protokol Kesehatan CHSE

Pelaku usaha wisata diharuskan untuk  menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability), tak terkecuali para pelaku usaha wisata  selam. Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Ricky Pesik, dala m acara sosialisasi yang digelar di Novotel Manado Golf Resort & Convention Center, belum lama ini.

Kegiatan tersebut turut hadir beberapa narasumber, antara lain Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Utara Henry Kaitjily, President & CEO Divers Alert Network (DAN) William M. Ziefle, Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Farianna Prabandari, serta Tim Penyusun CHSE Usaha Wisata Selam Kemenparekraf Daniel Abimanju Carnadie dan Bayu Wardoyo.

Ricky menjelaskan, industri  pariwisata menjadi salah satu industri  yang ikut terkena dampak pandemi Covid-19.  Akibatnya tidak sedikit, industri pariwisata yang menghentikan operasinya. Namun hal ini tidak boleh terus dibiarkan, karena itu pemerintah dan  pelaku usaha wisata untuk membuat dan mengimplementasikan protokol kesehatan CHSE secara benar.

“Dalam mengaktifkan kembali sektor pariwisata, diperlukan penerapan produk kesehatan yang baik. Untuk itu Kemenparekraf/Baparekraf berinisiatif menyusun panduan protokol kesehatan berbasis CHSE di masing-masing bidang pariwisata, termasuk wisata minat khusus selam,” kata Ricky Pesik saat membuka kegiatan. 

Ricky menjelaskan, Kemenparekraf telah membuka akses bagi pelaku usaha  wisata selam untuk dapat mengakses protokol kesehatan berbasis CHSE tersebut. Cara cukup dengan membuka website Kemenparekraf yakni www.kemenparekraf.go.id.

Di website tersebut, pelaku usaha wisata selam mapun wisata lainnya dapat melihat dan memperlajari protokol kesehatan berbasis CHSE tersebut. Jangan sekedar dipelajari namun diterpakan secara tepat dan sungguh-sungguh Untuk menyusun panduan protokol kesehatan ini, Kemenparekraf menggandeng Divers Alert Network (DAN) Indonesia.

Ricky mengapresiasi pelaku usaha wisata selam yang serius menjalankan protokol kesehatan CHSE. Namu bagi yang belum diimbau untuk secepatnya menerapakan protokol kesehatan  agar dapat memastikan keselamatan dan kenyamanan wisatawan dalam berkegiatan.

Karenanya ia yakin bahwa para pelaku wisata selam telah siap untuk menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE dengan lebih baik sehingga dapat membangkitkan kembali sektor pariwisata pascapandemi COVID-19.

Selain untuk meminimalisir penyebaran COVID-19, panduan protokol kesehatan ini memiliki tujuan agar wisata selam di Indonesia memenuhi standar keselamatan serta mendapatkan kepercayaan dalam aspek kesehatan dari wisatawan selam nusantara maupun mancanegara, sehingga industri wisata selam di Indonesia dapat bangkit kembali.

“Saya yakin para pelaku usaha wisata selam adalah yang paling siap untuk menerapkan dan melakukan pengawasan protokol kesehatan dengan baik sehingga dapat meyakinkan wisatawan bahwa setiap destinasi atau tujuan dari wisata selam di Indonesia aman dari COVID-19 kedepannya,” kata Ricky Pesik. “Sekali lagi yang terpenting dari semuanya dibutuhkan kedisiplinan dari para pelaku usaha wisata selam dan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan,” kata Ricky.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Utara Henry Kaitjily mengatakan Sulawesi Utara, khususnya Bunaken, menjadi salah satu destinasi favorit wisata selam. Dengan sosialisasi protokol kesehatan berbasis CHSE dari Kemenparekraf/Baparekraf diharapkan dapat semakin memperkuat kapasitas para pelaku usaha selam untuk kembali produktif.

“Dengan penerapan protokol kesehatan yang baik saya yakin bahwa Sulawesi Utara menjadi tujuan utama wisata selam tidak hanya nasional, tapi ke depan juga sudah banyak wisatawan dari luar yang booking untuk menyelam di sini,” kata dia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close