Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Indonesia Buka Peluang Investasi Tiongkok di Sektor Pertanian

0
WhatsApp Image 2025-04-13 at 07.31.03

Salah satu pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2024-2029, Koka Imran menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur terus melejit, dengan pembangunan terutama melalui sector tambang nikel. Pembangunan tersebut selayaknya dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan pangan, bukan hanya untuk masyarakat setempat tapi juga tenaga kerja asing pada sector tambang.

“Indonesia Timur booming karena, salah satunya komoditas tambang termasuk nikel. Otomatis kebutuhan pangan terutama padi, sayur-sayuran, ikan dan lain sebagainya harus dipenuhi,” kata Koka pada pertemuan dengan delegasi dept. of agriculture and rural affairs of Hunan province di kantor PT Nusaraya, Roxy Trade Center.

Upaya pemenuhan kebutuhan pangan di Sulawesi paralel dengan focus utama pemerintah pusat, yakni ketahanan energy dan pangan. Selain, program swasembada pangan sebagai salah satu tujuan utama. Dalam waktu singkat demi pentingnya produksi pangan local untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Peningkatan produksi pertanian termasuk padi, jagung, dan kedelai, diupayakan melalui penggunaan teknologi modern dan praktik pertanian yang berkelanjutan.

“Infrastruktur perlu digenjot, dan perlu mengundang investor asing termasuk asal Tiongkok. Infrastruktur, alat dan mesin pertanian unggul bisa untuk mencapai swasembada pangan,” kata Koka Imran.

Salah satu langkah konkret adalah program penanaman jagung serentak di seluruh Indonesia, yang ditargetkan mencapai 1 juta hektare. Ini bertujuan untuk meningkatkan produksi jagung dan mendukung ketahanan pangan. Komoditas pangan lainnya juga diutamakan dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing karena setiap daerah memiliki perbedaan kebutuhan pangan. Pemerintah Sulawesi Utara mencadangkan program lumbung sayuran guna memenuhi kebutuhan lokal dan provinsi sekitarnya. Yang diprioritaskan; kentang (3.871 hectare), cabai rawit (3.827), bawang daun (3.750), kubis (2.200), tomat (1.881).

“Di Kendari (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi tengah), ada banyak pekerja tambang asal China. Maka Sulawesi butuh pangan. Penduduk local di tengah kegiatan investasi China juga butuh pangan,” kata Koka Imran.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Heri Soba menilai pasar Tiongkok prospektif terutama untuk industry pengolahan. Kebutuhan singkong di Tiongkok selama belasan tahun mengandalkan pasokan dari Kamboja dan Laos. Sehingga agribisnis singkong di kedua negara tersebut berkembang pesat.

“Sementara singkong yang dikembangkan di Indonesia masih secara tradisional. Kalaupun ada pengolahan secara industri, jumlahnya masih sedikit,” kata Heri Soba di sela presentasi MSI dengan delegasi prov. Hunan.

Urutan negara produsen singkong terbesar di dunia, yakni Nigeria, Thailand, Vietnam, Indonesia, Kamboja, Laos dan seterusnya. Indonesia menempati urutan ke-4 walaupun sudah mulai digeser Kamboja dan Laos. Keberhasilan pemerintah Kamboja dan Laos mendorong kapasitas produksi singkong, sehingga bisa merebut pasar Tiongkok. Peran Indonesia, terutama untuk prospek pasar Tiongkok bisa dibarengi dengan industry pengolahan singkong untuk bahan baku makanan dan minuman (mamin).

“Yang paling prospektif, pembuatan MSG (Monosodium Glutamate) dari singkong. MSG sebagai zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung singkong. Produk turunan singkong juga sangat beragam terutama untuk industry mamin,” kata Heri Soba.

Selain untuk pembangunan industry tepung tapioca, nilai investasi pada skala industry yakni Rp 300 – 400 milyar. Biaya untuk pembangunan pabrik sampai pada proses produksi bahan baku, menghasilkan tapioca yang sering digunakan untuk beragam jenis kue. Angka tersebut potensial untuk pengembangan agribisnis singkong di Lampung, bahkan Indonesia timur. Kalau skala mini, nilai investasi Rp 50-100 milyar. skala industry untuk pembangunan industry tapioca hulu – hilir bisa parallel agribisnis singkong di Kamboja, Laos.

“Tiongkok juga sudah mengembangkan MSG dari singkong. Selain, singkong digunakan untuk bahan baku pemanis di Tiongkok. Tidak selamanya pemanis dari gula tebu. Tiongkok juga menyerap singkong Kamboja, Laos untuk diolah menjadi tekstil dan kertas,” kata Heri Soba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *