CultureHeadline News

Lakon Rajamala Virtual, Wujud Diplomasi Budaya Indonesia di Masa Pandemi

Di masa pandemi COVID-19, diplomasi budaya Indonesia harus berubah dengan format yang baru. Sebagian besar kegiatan pertunjukan budaya menjelma menjadi kegiatan daring untuk menghindari penyebaran virus corona. KBRI Bern selenggarakan pertunjukan daring lakon Rajamala  bertajuk “The Stories about the Life and the World” untuk masyarakat Swiss dan Liechtenstein, belum lama ini. Pertunjukan virtual sekaligus seminar daring ini merupakan kerja sama antara KBRI Bern, Museum Rietberg di Zürich, dan Union Nationale della Marionette (UNIMA) Indonesia.

Lakon Rajamala yang didalangi Ki Catur Benyek Kuncoro merupakan adegan pembuka dari rangkaian seminar daring tentang wayang. Penonton disuguhi cerita tentang Rajamala yang membalaskan dendam ibunya, Sendang Watari. Lantunan musik pun dimainkan langsung dari Yogyakarta, Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman D. Hadad, menyampaikan dukungan Pemerintah Indonesia untuk mempromosikan berbagai kesenian dan kebudayaan Indonesia. Kehadiran diaspora Indonesia di Swiss dan Liechtenstein juga menjadi dukungan yang besar bagi pelaksanaan pertunjukan budaya. “Respon masyarakat Swiss dan Liechtenstein terhadap kebudayaan Indonesia sangat positif, dan kami harap kebudayaan Indonesia akan semakin dikenal di sini,” lanjutnya.

Turut hadir pula dalam webinar dimaksud, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, yang merupakan penggemar wayang sejak masa kecil. “Tokoh wayang favorit saya berubah sesuai dengan kondisi saya, ketika saya menjabat sebagai Gubernur BI, maka saya mengidolakan Kresna yang bijak dan penuh strategi,” ujarnya.

Selanjutnya, peserta webinar diajak berdiskusi dengan tiga narasumber. Dubes Samodra Sriwidjaja, yang merupakan Presiden UNIMA Indonesia, menyampaikan beberapa filosofi wayang yang dihidupi oleh suku Jawa di Indonesia serta beberapa jenis wayang yang hingga kini masih dimainkan. Narasumber kedua, Dr. Johannes Beltz dari Museum Rietberg, menekankan bahwa wayang bukan sekedar benda mati dan kuno, melainkan sebuah penampilan yang hidup di tengah masyarakat Jawa. Eva von Reumont, sebagai narasumber ketiga sekaligus kurator pameran wayang di Museum Rietberg, menyampaikan bahwa wayang merupakan bagian yang utama dan tidak terpisahkan dari kebudayaan Jawa.

Seminar daring beserta pertunjukan wayang daring tersebut merupakan upaya KBRI Bern untuk selalu mempromosikan kebudayaan Indonesia walaupun di situasi pandemi yang membuat hampir seluruh pertunjukan kebudayaan harus dibatalkan. (Sumber: KBRI Bern)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close