AccommodationHeadline News

Liberta Hotel Ciptakan Terobosan Selamatkan Usaha Perhotelan di Tanah Air

Menjalankan usaha di tengah pandemi menjadi ujian yang berat bagi pelaku usaha perhotelan. Mereka harus bekerja keras  mencari cara agar dapat bertahan di tengah pandemi yang berkepanjangan ini. Bahkan tidak sedikit juga, pelaku usaha perhotelan yang harus menutup operasionalnya karena tidak mampu lagi  menjalankan bisnisnya.

Melihat kondisi ini, membuat Liberta Hotels International, sebagai hotel owner maupun  hotel operator dan investor terpanggil untuk membantu para pelaku usaha perhotelan di Indonesia. Bantuan tersebut berupa rebranding kepada usaha perhotelan yang sedang  kesulitan  menjalankan operasionalnya, namun ada prospek yang cerah ke depan, jika operasionalnya tetap dilanjutkan.

VP Development Liberta Hotel International Ruben Amor   mengatakan rebranding ini menjadi terobosan Liberta Hotel International dalam meningkatkan bisnis perhotelan di tengah pandemi Covid-19.  Kehadiran Liberta Hotels International  , memberikan warna tersendiri , sekaligus sebagai pembeda dengan Hotel Operator lainnya di tanah air. Perbedaan itu salah satunya terlihat dari  dana untuk  rebranding.

“Biaya  rebranding ini itu seratus persen menjadi tanggung jawab Liberta, jadi sifatnya gratis cuma-cuma. Namun cuma-cuma di sini kita minimal hotel yang mau kita rebranding ini adalah baik dari bintang satu maupun sampai bintang tiga dengan jumlah kamar minimal 50,” kata Ruben saat diwawancarai tim liputan EL JOHN News, Senin (10/5/2021).

“Kompensasinya satu, propertinya kita ganti nama menjadi Liberta Hotel. Karena sifatnya rebranding maka mau ga mau nama itu kita ganti dengan brand kita, teknisnya seperti itu. Di mana cost rebranding itu menjadi tanggung jawab murni, tanggungjawab penuh terhadap Liberta, jadi dibebankan kepada Liberta,” tambahnya.

Selain rebranding, Liberta Hotel International juga menyiapkan insentif kepada pelaku usaha perhotelan. Insentif itu berupa  insentif  penyertaan modal dan  pinjaman lunak.

“Insentif ini bisa dikonversikan menjadi saham itu yang pertama atau bisa diberikan sebagai pinjaman lunak  dalam jangka waktu sesuai masa kontrak kita. Kontrak itu kan minimal 5 sampai 10 tahun. Artinya sejumlah dana yang kita inject atau yang kita masuki dalam hotel itu akan dikembalikan,  apakah dalam 5 tahun atau 10 tahun tergantung dari kontraknya,” ujar Ruben.

Sebelumnya Liberta Hotel menargetkan pada tahun ini,  program rebranding  dapat menyasar  35 hotel di Pulau Jawa dan Bali. Namun seiring perjalanan, banyak pelaku usaha perhotelan yang tertarik dengan program rebranding ini, dan akhirnya diputuskan ditambah target pasarnya menjadi 50 hotel.

“Target 35 Jawa dan Bali, karena ada animo yang bagus, akhirnya kita buka juga di luar Jawa dan Bali, jadi paling tidak sampai akhir tahun itu kita bisa mencapai 50 hotel. Kita tetap mengkaji jangan sampai dana yang ada itu hanya dialokasikan di satu tempat, kalau bisa yang lain juga terbantu karena ini kan  program penyehatan jadi jangan ada dominan juga,” ungkap Ruben.

Ruben menegaskan dua program rebranding dan insentif ini, merupakan program untuk menggairahkan kembali geliat industri perhotelan tanah air yang menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata. Jika industri perhotelan  tetap sehat maka sektor pariwisata dapat bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

“Jadi sebenarnya ini tujuannya untuk penyehatan, jadi bukan kita bisnis duit ya, tapi satu sisi kita main di rebranding  dan insentif  tujuannya untuk penyehatan di sektor pariwisata khususnya di dunia perhotelan. Jadi skemanya sangat menarik, apalagi kondisinya sekarang ini hotel mau merenovasi butuh dana sementara Bank belum bisa kasih pinjam. Kalau  misalkan di relaksasi akan menambah masalah baru untuk ownernya untuk mendapatkan pinjaman kembali,” tutur Ruben.

Selain itu, menurut Ruben,  program yang diusung Liberta Hotel ini juga  sebagai upaya untuk membantu pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam memberikan stimulus kepada pelaku usaha pariwisata maupun ekonomi kreatif.

“Liberta ini, salah satu sektor swasta yang mau bekerjasama dengan pemerintah dalam hal memberikan insentif dalam bentuk rebranding. Kalau Pemerintah kan melalui Kemenpar punya program insentif, di mana insentif ini kan diambil dari pajak  yang terkumpul pada tahun 2019, yang nilainya memang tidak besar, maka kita coba kolaborasi ini sehingga dapat memberikan dampak yang baik terhadap para sesama pemilik hotel gitu,” jelas Ruben.

Liberta Hotel International kini sedang mengembangkan kerja sama kemitraan dengan mengusung beberapa merk dagang seperti ; Liberta Home Depok , Liberta Hotel Malioboro  Yogyakarta , Liberta Hub Blok M, Liberta Hotel Kemang , Liberta Hotel Petitenget Bali , Liberta Hotel Bandung , Liberta Hotel Makassar , Liberta Hotel Solo , Liberta Hotel Purwakarta, Liberta Hotel Surabaya , Maxolie Hotel & Convention Kebumen , Amanuba Resort Bogor , dan beberapa project dalam tahap pembangunan dan finishing , diharapkan akan beroperasi pada akhir 2022

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close