Headline NewsHealthy LifeLifestyleSports

Marlupi Dance Academy Jadi Juara di Asian Grandprix 2017

Marlupi Academy (MDA) sebuah sekolah balet tertua dan terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Ny. Marlupi Sijangga pada tahun 1956,  telah berhasil menciptakan karya-karya tari ballet klasik maupun tradisional modern. Pada tahun 2017 ini, 28 ballerina Marlupi Dance Academy terbang ke Hongkong untuk mengikuti Kejuaraan Tari Ballet Tingkat International, yaitu Asian Grandprix.

25 Ballerina telah mengikuti Asian Grandprix pada 5 – 12 Agustus 2017, kompetisi ini, diikuti oleh beberapa Negara, diantaranya ; Philipina, Jepang, Hong Kong, China, Malaysia, Korea, Singapura, Australia, New Zealand serta Indonesia. Para penari membawakan variasi balet dari beberapa cerita, diantaranya ; silver fairy, princes florine dari cerita Sleeping Beauty, Cupid dari Don Quixote, 3rd shade from La Bayadere, le corsaire.

Pada Asian Grandprix, Marlupi Dance Academy murid MDA telah berhasil meraih medali emas di kategori pre competitive 1, yaitu Freya Zaviera Narendrasetya, Pre Competitive 2 yaitu Ilona Jahja dan Pre Competitive 3 yaitu Rebecca Alexandria Hadibroto serta medali perunggu untuk kategori pre competitive 2 yaitu Alexandria Charlotte Eleanore dan 2 orang memperoleh penghargaan Fonteyn / ke 4 yaitu Efania Sumanadevi dan Alya Fathiyyah Zulfa serta penghargaan sansha / ke 5 yaitu Raissa Septi Azmi.

MARLUPI DANCE ACADEMY

 MDA didirikan oleh Marlupi Sijangga pada tahun 1956. Sejak tahun 1993 MDA ada di Jakarta dibawah pimpinan anak perempuannya, Fifi Sijangga. Dan kemudian berkembang dan memiliki lebih dari 40 studio cabang, 50 staff pengajar dan lebih dari 2500 murid di Indonesia.

Program rutin tahunan MDA adalah: Ujian Ballet bertaraf Internasional dengan lisensi Royal Academy of Dance London dan Beijing Dance Academy, Pertunjukan Ballet  Teater, Uji Pentas Ballet dan Jazz bagi para murid di gedung pertunjukan ternama.

Selain program tahunan tersebut, MDA juga turut serta dalam event-event seperti: Program Ballet pada masa liburan sekolah untuk para siswa, seminar-seminar ballet untuk para pengajar yang diadakan oleh Royal Academy Of Dance dan Beijing Dance Academy, perlombaan ballet dan jazz bertaraf internasional di seluruh dunia.

Sebagai sekolah tari ternama di Indonesia, MDA berkomitmen untuk menjaga dan terus meningkatkan kualitas para penari ballet muda dengan selalu mengikutsertakan para staff pengajar dalam seminar dan training yang ada dan mengikutsertakan para siswa dalam pertunjukan dan memotivasi para siswanya untuk juga mengikuti pembelajaran ballet di sekolah balet ternama di dunia.

PENGHARGAAN YANG PERNAH DIRAIH

Sebelum tahun 2000, pertunjukan-pertunjukan yang telah menarik perhatian penonton local dan internasional: Jazziba ( Jazz in Bali), Shakutala, Jaka Tarub, Burung Gelatik, Gadis Korek Apim The Nutcracker, La Fille Mar Gardee, Sleeping Beauty, dan The Little Mermaid.

MDA juga telah berhasil memperoleh penghargaan dalam perlombaan tari bertaraf internasional seperti: Tremaine Dance Competition, Jazz Dance World Congress, Australian Dance Championship.

2001: Yanti Marduli ( Murid MDA) menjadi orang pertama dari Indonesia yang berpartisipasi dalam pertandingan ballet bertaraf Internasional “Genee Award”

2003: Yanti Marduli menjadi orang pertama yang berhasil memperoleh gelar “Solo Seal” dari Royal Academy of Dance, dan sekarang Yanti telah menjadi Penari Profesional di Manila Ballet Company.

2006: Shintya Kumalasari (Murid MDA) berhasil memperoleh gelar “Solo Seal” dari Royal Academy of Dance

2007: Lianawati Alamsyah ((Murid MDA) berhasil memperoleh gelar “Solo Seal” dari Royal Academy of Dance

2008: Claresta Alim dan Irene Aryanti (Murid MDA) berpartisipasi dalam kompetisi ballet internasional “Genee Award”. Dan pada akhir tahun 2008, Irene berhasil memperoleh gelar “Solo Seal” dari Royal Academy of Dance dan Claresta mendapat beasiswa penuh selama 1 tahun di Joffrey Ballet School  dan lalu melanjutkan studi nya di The Washington Ballet School.

Michael Halim berpartisipasi dalam kompetisi ballet internasional “Phyllis Bedells “ di London dan merupakan penari pria pertama yang mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi tersebut.

2009: Michael Halim dan Maria Linsy (Murid MDA) ) berpartisipasi dalam kompetisi ballet internasional “Genee Award”.

2010: Cindy Kwan memperoleh beasiswa dari Joffrey Ballet School dan Nadya Mulyono berhasil diterima di Alvin Ailley School New York dan ) berpartisipasi dalam kompetisi ballet internasional “Genee Award”.

2011: Claresta Alim diterima di “Art Ballet Theatre Ballet Company” dan Ludvina Theodor memperoleh beasiswa penuh dari Chigago Ballet School – USA

2012: Michael Halim berhasil menjadi penari pria pertama dari Indonesia yang memperoleh gelar “Solo Seal” dari Royal Academy of Dance, Maria Linsy diterima di Goh Ballet Academy – Vancouver, Canada.

Pada tahun 2012, MDA juga akan mengikutsertakan 3 orang murid-murid nya yaitu: Cindy Kwan, Resti Oktaviani, dan Kathleen Wijaya dalam kompetisi ballet internasional ”Genee Award” di New Zealand.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button