Survei EOS Akan Menentukan Peringkat Daya Saing Indonesia di Tingkat Global

0
5adc28af-3ba6-4a53-8265-88ef4297fc3c

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengingatkan para Chief Executive Officer (CEO) Indonesia, yang akan menjadi target survei EOS (Executive Opinion Survey) oleh World Economic Forum (WEF) pada Maret 2018 mendatang, agar mempersiapkan diri mengingat survei tersebut akan menentukan peringkat daya saing Indonesia di tingkat global atau global competitiveness index (GCI).

“Saya minta agar para CEO yang hadir di sini bersiap menghadapi ujian EOS yang akan dilaksanakan oleh WEF untuk menentukan peringkat GCI. Survei EOS ini akan mencerminkan posisi Indonesia di panggung dunia,” kata Menpar Arief Yahya ketika sebagai keynote speech dalam seminar ‘Strategi Peningkatan Daya Saing Indonesia dalam Perekonomian Global’ yang berlangsung di Gedung Ali Wardhana, kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Menpar Arief Yahya menjelaskan, posisi daya saing Indonesia di tingkat global (GCI) saat ini berada di peringkat 36, sedangkan daya saing untuk sektor pariwisata Indonesia di tingkat global atau Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) berapa di peringkat 42 atau  meningkat dari peringkat 50 pada tahun 2015.

“Travel and Tourism Competitiveness Index ini sendiri beririsan dengan data GCI,” kata Menpar Arief Yahya dalam paparannya  yang diberi judul ‘Peningkatan Daya Saing Pariwisata Indonesia’.

Di hadapan para CEO dari 117 perusahaan yang menjadi peserta seminar, Menpar menjelaskan tujuan dari penyampaian paparan ini adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri (confidence) para CEO yang akan menjadi target survey untuk menghadapi (ujian) survei EOS.

Menpar mengatakan masih ada aspek yang perlu dibenahi di Indonesia, dan pemerintah sadar untuk membenahi kekurangan tersebut. “Seperti pendulum, di ujung atas itu ada pengambilan keputusan strategis (CEO), bagian tengah itu ada bagian taktikal (middle management/manajer),  dan ujung bawah itu ada pelaksana (operasional/staf).  Bila CEO itu bergerak 1 meter maka di level operasional bisa bergerak 100 meter, kita menyadari kurang mengadakan deregulasi besar-besaran di level strategis (CEO) sehingga perubahan terasa sangat besar di level operasional yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” kata Arief Yahya.

Menpar  yang didampingi Staf Khusus Bidang Informasi Teknologi Sam Sriyono pada kesempatan itu memaparkan kinerja Indonesia Incorporated lintas Kementerian/Lembaga dalam memperbaiki komponen yang masih rendah dalam unsur penilaian TTCL antara lain; dalam masalah higinitas (hygiene); keamanan (security), dan infrastruktur pariwisata (tourist infrastructure).

Presiden Joko Widodo mentargetkan daya saing pariwisata Indonesia tahun 2019 berada di ranking 30 dunia, sementara saat ini berada di ranking 42 dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *