Pelaku Travel Agent Manfaatkan Teknologi Digital Untuk Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

0
WhatsApp Image 2020-07-16 at 17.55.29

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita)  Nunung Rusmiati merasa  bersyukur memiliki 7.000 anggota Asita yang memiliki ide-ide cemerlang. Di tengah pandemi Covid-19 para anggota Aista selalu berkomunikasi untuk mencarikan solusi agar tetap bertahan. Solusi itu yakni memanfaatkan teknologi digital untuk menjual produk-produk pariwisata, seperti souvenir

“Alhamdulillah Asita ini kita banyak grup, ada yang keseluruhan, ada yang ketua DPD sendiri, jadi intinya kita harus kreatif dan inovatif. Jadi yang tadi betul-betul 90 persen ini tidak ada penjualan namun karena kita kreatif dan inovatif. Jadi kaya jual songket kita memanfaatkan tradisional-tradisional dan dijual dengan online udah gitu Asita sudah biasa dengan digital, jadi walaupun hasil tidak sampai 20 persen pendapatan namun untuk sehari-hari bisa survive dulu,” kata Rusmiati saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Aviation Forum (IAF) di studio EL JOHN TV, Neo Soho Capital lantai 40, Jalan Letjen S.Parman, Kamis (16/7/2020). Program ini ditayangkan oleh EL JOHN TV setiap Sabtu pukul 11.00 WIB..

Selain Rusmiati, ada narasumber lain yakni Direktur utama PT. Hotel Indonesia Natour (Persero) Iswandi said dan Pengamat Penerbangan Joseph Adrian Saul. Program ini dipandu oleh host Arista Atmajati dan Co Host Clarita Mawarni Salem.

Rusmiati mengakui banyak pelaku usaha travel agent yang merasakan sulit meraih pemasukan di tengah pandemi Covid-19.  Apalagi kondisi itu sangat terasa, di saat Pemerintah membatasi aktivitas masyarakat untuk mencegah terjadinya penyebaran virus secara masif.

Rusmiati  mengatakan sulitnya pelaku usaha  travel agent untuk beroperasi,  lantaran pelaku usaha-usaha lain yang menjadi mitranya  juga harus berhenti beroperasi,  seperti maskapai, hotel maupun objek wisata. Kondisi tersebut tidak bisa dihindarkan karena  usaha travel agent merupakan  usaha yang membutuhkan kolaborasi sama industri pariwisata lainnya.

“Sudah 6 bulan kita terpengaruh yang tadi disebutkan hotel, pesawat, semua termasuk travel agent, nah di sini travel agent yang menjual dari produk airlines, dari hotel dan dari restoran, jadi kita ga bisa menjual,” ujar Rusmiati

Rusmiati menjelaskan, pelaku usaha travel agent harus merasakan  dua  fase untuk melewati masa sulit ini, yaitu fase di saat  virus ini merebak di China hingga fase kasus Covid-19 ditemukan di Indonesia.

“Kita ada dua fase, fase pertama yang saat Covid-19 ini belum merebak di Indonesia atau belum positif, kita masih bisa mempromosikan yang domestik. Jadi waktu itu Asita masih tetap yakin ada Asita Fair di bulan April, nah  tapi di fase kedua setelah kita dinyatakan positif itu betul-betul memukul, hampir 90 persen anggota Asita ini tidak ada aktivitas itu sekitar bulan Maret. Karena pengaruhnya banyak pertama dari keamanan, terus dari penyakitnya itu sendiri itu jadi sangat terpuruk,” ungkap Rusmiati.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *