EconomicHeadline NewsInvestmentTransportation

Pemerintah Putuskan PT KAI Sebagai Investor Utama Proyek LRT Jabodebek

Usulan Menteri BUMN Rini Soemarno agar investasi pembangunan proyek Light Rapid Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodebek) dilakukan dengan joint venture atau patungan antar perusahaan. Sebenarnya apa yang disampaikan Rini bermanfaat untuk mengurangi beban investasi yang dipikil PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Persero.

Setelah melakukan rapat koordinasi antara Menteri, Pemerintah akhirnya sepakat untuk tetap menjadi PT KAI (Persero) sebagai investor utama dalam pembangunan LRT ini.
“Tidak ada JV. Sudah jelas strukturnya yang di-guarantee (dijamin) itu KAI. Tidak bisa pemerintah itu meng-guarantee nonpemerintah,” tegas Menteri Koordinator Maritim Luhut B Panjaitan dalam Konferensi Pers Proyek LRT Jabodebek, Jumat, 8 Desember 2017.

Luhut menjelaskan bahwa PT KAI sudah siap menjadi investor utama dan rencananya financial closing proyek LRT akan dilakukan pada 21 atau 22 Desember 2017. Sementara, pencairan dana untuk PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai kontraktor sendiri akan dilakukan pada 15 Januari mendatang.

“Tidak ada perubahan signifikan, proyek berjalan baik. Kami tetap financial closing bulan ini,” kata Luhut.

Luhut memastikan, proyek ini tetap akan menguntungkan bagi kedua BUMN. Internal rate of return (IRR) proyek LRT akan berada di angka double digit atau sebesar 11 persen.

Angka itu naik dari sebelumnya yang hanya 8,9 persen. Pasalnya, angka sebelumnya dihitung tanpa ada proyek Transit Oriented Development (TOD).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, total kebutuhan investasi proyek LRT Jabodebek diputuskan sebesar Rp29,9 triliun. Pembiayaan proyek, menurut dia, akan dibiayai oleh KAI sebesar Rp25,7 triliun dan PT Adhi Karya Rp4,2 triliun.

“Skema yang ada adalah Adhi dapat PMN (Penyertaan Modal Negara) di 2015 Rp1,4 triliun dan kemudian rights issue, sehingga memperoleh Rp4,2 triliun. KAI dapat PMN Rp7,6 triliun dan akan meminjam Rp18,1 triliun,” jelas Sri Mulyani.

Adapun penerimaan proyek ini, menurut dia, tak hanya berasal dari tiket penumpang, tetapi juga elemen subsidi dari pemerintah dan penyewaan TOD (Transit Oriented Development),” terang dia.

Rini menambahkan efisiensi biaya proyek LRT Jabodebek berasal dari efisiensi pada pembangunan TOD dan depo.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button