CultureHeadline News

Pemkot Batam Ajak Industri Pariwisata Jadikan Budaya Melayu Sebagai Identitas

Pemerintah Kota Batam telah melayangkan surat edaran yang isinya menghimbau hotel, restoran, dan tempat hiburan diimbau untuk memutar lagu atau musik melayu di tempat usahanya. Selain itu, hotel-hotel juga diminta menyediakan masakan khas melayu pada menu sajiannya.

Surat edaran Walikota Batam ini disampaikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam kepada Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Jumat (9/8/2019)

Ajakan ini disampaikan Walikota Batam melalui surat edaran. Surat edaran Walikota Batam ini disampaikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam kepada Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Jumat (9/8/2019).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ardiwinata mengatakan surat edaran ini sebagai tindak lanjut pelaksanaan Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.

Menurut Ardiwinata, selain ke PHRI, surat edaran ini secara simbolis juga kita serahkan ke Sekretaris Daerah dan Sekretaris DPRD.

“Kita berharap sebelum ke swasta, amanat Perda ini terlebih dulu dilaksanakan pemerintah,” tuturnya.

Ardiwinata menjelaskan upaya ini dilakukan untuk memperkuat budaya Melayu di Kota Batam. Aturan yang ada di perda sudah mengakomodir ciri khas daerah.

Kerena itu, Ardiwinata mengajak seluruh pemangku kepenting di sektor pariwisata untuk menjadikan kebudayaan melayu sebagai jati diri daerah yang diaplikasi lewat jenis-jenis usahanya.

Ardiwinata memberikan contoh Bali, yang kebudayaannya sudah mengakar hingga ke usaha bisnis, seperti hotel yang pegawainya setiap hari menunjukkan kekhasan, dengan pakai udeng.

“Batam paling tidak ada satu kali dalam seminggu. Tapi benar-benar pakaian melayu yang lengkap. Betul-betul pakai songkok atau tanjak,” pesan pria yang pernah berprofesi sebagai guru ini.

Dari sisi musik misalnya dengan pemasangan musik instrumental melayu di hotel, restoran, mal, pelabuhan, dan bandara. Atau akan lebih baik apabila ada sajian penampilan live dari pemain musik tradisional.

“Dari sisi menu makanan, banyak menu kita yang kita tidak pernah bosan. Contoh roti jala, laksa, kue tepung gomak, macam-macam,” ujarnya.

Pemakaian baju, pemutaran musik, hidangan menu khas, hingga penjualan souvenir bisa membantu perkenalkan melayu Kepulauan Riau ke daerah lain termasuk wisatawan mancanegara. Selain itu penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar pun bisa jadi pilihan. Seperti yang sudah diterapkan di beberapa ruang publik di Pekanbaru.

“Di Pekanbaru yang umumkan itu sudah mulai gunakan bahasa melayu. Kenapa Batam tidak. Batam pintu gerbang Indonesia. Dan sumber bahasa Indonesia kita adalah bahasa melayu Kepauan Riau dari Raja Ali Haji di Penyengat. Kalau sudah seluruh pelabuhan bandara melakukan ini, nampak ciri khas kita,” kata mantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Batam ini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close