Headline NewsInvestment

Pentingnya Prinsip Kehati-hatian Dalam Menilai Tawaran Investasi

Berinvestasi adalah pilihan tepat baik untuk memutar uang anda dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun sebagai simpanan di hari tua . Bentuk dari investasi sendiri ada dua, investasi dalam produk keuangan dan bisnis secara langsung seperti investasi toko, kantor atau properti. Investasi dalam produk keuangan yang banyak menjadi pilihan banyak orang adalah reksa dana.

Namun, perlu kecermatan dalam menyikapi tawaran investasi, bisa jadi tawaran anda terima merupakan investasi bodong. Investasi bodong sendiri merupakan investasi dimana kamu akan diminta sejumlah uang untuk menanamkan modal dalam produk atau bisnis, yang sesungguhnya tidak pernah ada.

Orang yang menyuruh Anda melakukan hal tersebut akan membawa kabur uang Anda. Maka dari itu Anda harus waspada dan berhati-hati dalam berinvestasi agar tidak terkena investasi bodong.

Nigiyati Tan seorang Praktisi Dibidang Perbankan memberikan tips agar terhindar dari investasi bodong. Tips ini disampaikan Nigiyati saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Investment Forum yang dipandu oleh  Pakar Properti Indonesia Ruby Herman dan disiarkan rutin oleh EL JOHN TV.

Nigiyati mengatakan menjadi korban investasi bodong akan mengalami depresi berat, pasalnya uang disiapkan selama bertahun-tahun dengan jerih payah akan hilang begitu saja. Karena itu perlu ada prinsip kehati-hatian dalam memilih investasi.

“Saya cukup miris ya melihat sekarang mungkin sahabat EL JOHN juga tahu kan banyak investasi gagal bayar, ujung-ujungnya gugatan lah di pengadilan, uang investor tidak kembali tetapi justru kita sudah terlunta-lunta, tapi kita mengeluarkan effort lagi , masih mengeluarkan biaya lagi untuk mengurus itu semua,” kata Nigiyati,

Nigiyati menegaskan harus ada pencermatan yang matang jika ada tawaran investasi. Jangan terburu-buru untuk memasukan dana ke investasi yang ditawarkan tersebut. Cari tau siapa perusahaannya atau orangnya di balik investasi tersebut serta bagaimana track recordnya di dunia investasi apakah pernah bermasalah atau tidak.

“Investasi memang walaupun kita tipikalnya agresif ya, kita harus hati-hati sekali, harus tau dalamnya investasi ini untuk apa, digunakan peruntukannya untuk apa, kita harus tau. Kemudian kalau kita berinvestasi tidak usah terburu-buru, banyak sekali orang yang depresi berat karena mereka terlalu yakin. Jadi mereka taruh 100 persen, 80 persen keseluruhan hartanya  ke investasi ini. Dan ketika hasilnya gagal bayar jatuhnya depresi berat,” ujar Nigiyati.

Namun Nigiyati mengakui terkadang ada kesulitan membedakan mana investasi yang legal dan ilegal. Pasalnya, kebanyakan orang yang menawarkan investasi adalah orang yang dikenal, sehingga mudah percaya dan akhirnya menanamkan modalnya di investasi tersebut.

Kemungkinan orang yang menawarkan tersebut juga tidak mengetahui investasi yang ditawarkannya ini ternyata investasi bodong. Kasus-kasus yang terjadi, investasi bodong ini lancer membayar hanya beberapa bulan saja namun selanjutnya akan mengalami gagal bayar.

“Karena sekarang kita memang susah membedakan, apakah produk finance yang ini apakah produk bank atau produk lembaga keuangan lain, karena yang menjual itu kan rata-rata orang yang kita kenal, orang terdekat, orang perbankan juga misalnya, teman-teman di lembaga keuangan lain, jadinya masyarakat itu sudah tidak bisa objektif lagi, tidak bisa bedain ini bahaya atau enggak,” ungkap Nigiyati.

Nigiyati pun pernah mengalami menjadi korban investasi bodong, namun beruntungnya modal yang ditanam itu jumlahnya tidak terlalu besar. Meski kecewa namun Nigiyati menanggap ini adalah resiko yang harus diterima saat terjun ke dunia investasi.

“Saya juga pernah jadi korban. Saya bilang investasi saya tidak semuanya untung  tapi overall untung. Jadi ada yang kecil-kecil harus hilang seperti itu. Tapi semuanya masih tercover, itulah pentingnya manajemen resiko. Jadi kalau kita tau ini bahaya ga usah masuk besar-besar meskipun agresif harus diukur juga resikonya,”

Pada kesempatan ini Nigiyati menerangkan, bahwa   pandemi Covid-19 tidak membuat sektor investasi menurun, justru terbuka peluang untuk berinvestasi. Kendati demikian prinsip kehati-hatian perlu diterapkan dalam memilih investasi di tengah pandemi.

“Ketika masa pandemi seperti ini, mungkin sahabat EL JOHN tahunya, inginya untung besar, tidak menutup kemungkinan bisa seperti itu, tetapi kita pun tidak boleh seratus persen menarus exposure itu di suatu tempat. Kalau paham atau reksadana biasanya kita pilih yang sudah punya nama, yang sudah punya track record,” terang Nigiyati

“Jadi misalnya saya ambil contoh yang gampang, jadi saham saya selalu ambilnya yang blue chip, satu sector biasanya saya pegang dua atau tiga emiten. Jadi misalnya saya pilih sektor perbankan  sama pertambangan, yang perbankannya saya pilih yang BUMN. Jadi saya ga pernah mau ini adan bank yang mau diakuisisi oleh asing, in ikan kesempatannya besar,” tambahnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close