Headline NewsTourism

Pulihkan Sektor Pariwisata, Joglosemar Dukung Gerakan BISA

Beriwisata kini sudah menjadi kebutuhan esensial manusia, di samping kebutuhan pokok yang lainnya. Terlebih di tengah pandemi Covid-19, kerinduan untuk berwisata pun sudah memuncak, tetapi faktor kesehatan masih menjadi pertimbangan.

Hal tersebut harus diperhatikan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, agar destinasi wisatanya tetap menjadi primadona bagi wisatawan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tidak tinggal diam melihat sektor pariwisata menjadi sektor yang terdampak Covid-19.

Berbagai upaya pun telah dilakukan Kemenparekraf, salah satunya dengan diluncurkannya Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman). Gerakan BISA merupakan gerakan perlindungan sosial #InDOnesiaCARE bagi para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdiri dari kegiatan bersih-bersih, penataan, pengecatan ulang, penyemprotan disinfektan, serta penyediaan fasilitas kebersihan dan kesehatan di seluruh destinasi wisata

Tujuan Gerakan BISA adalah untuk mendorong para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif untuk meningkatkan kesiapan, mengantisipasi perubahan, dan melakukan adaptasi agar dapat menarik kembali kepercayaan dari wisatawan. Yakni, dengan menekankan pada empat aspek esensial di sektor parekraf. Empat aspek tersebut terdiri dari kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan.

Di Yogyakarta, gerakan ini telah dikampanyekan di 13 destinasi. Ketiga belas destinasi tersebut adalah Klangon, Kaliurang, dan Watu Purbo di Kabupaten Sleman; Gunung Ireng, Watu Payung, dan Gunung Gentong di Kabupaten Gunungkidul; Pantai Trisik, Pantai Glagah, dan Pantai Congot di Kabupaten Kulon Progo; serta Gunung Pengger, Puncak Becici, Bukit Lintang Sewu, dan Pinus Asri di Kabupaten Bantul.

Untuk menyukseskan kampanye ini, Kemenparekraf berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta dan empat Kabupaten, yakni Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Bantul. Kolaborasi ini juga berhasil memberdayakan enam ratus pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Mereka diajak untuk membersihkan bersama area destinasi dari sampah dan kotoran.

Selain itu, juga dilakukan pengecatan, penanaman tanaman hias, penyediaan tempat sampah, serta alat kebersihan di destinasi. Tak berhenti di situ, Kemenparekraf juga mendedikasikan lima puluh wastafel gerabah permanen dilengkapi dengan signage petunjuk cuci tangan sesuai anjuran World Health Organization (WHO), serta thermogun dan face shield di titik-titik masuk pengunjung.

Dengan digalakkannya Gerakan BISA ini, pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Yogyakarta pun siap menerima kedatangan wisatawan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Di Semarang, gerakan BISA juga sudah dikampanyekan. Dalam mengampanyekan gerakan ini, Kemenparekraf bersinergi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Kegiatan yang dilakukan dalam mengampanyekan Gerakan BISA ini sama dengan di Yogyakarta, yakni dengan melakukan aksi bersih-bersih di sejumlah destinasi wisata yang ada di Semarang, seperti Goa Kreo Semarang.

Banyak industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang dilibatkan dalam kampanye ini. Mereka tampak serius dalam mengikuti kegiatan bersih-bersih demi kebangkitan pariwisata. Keseriusan mereka ini menjadi bukti bahwa para pelaku usaha dan ekonomi kreatif di Semarang sangat mengedepankan protokol kesehatan dalam menyambut kunjungan wisatawan.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close