Ratenggaro, Pesona Eksotis di Tanah Sumba

0
Sumba-Barat

Sebagian wisatawan mungkin belum terlalu akrab dengan Pulau Sumba, salah satu pulau yang berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sumba Barat Daya yang mempunyai Pasola sebagai ikon budayanya, ternyata mempunyai desa adat dengan berciri khas jajaran rumah adatnya yang sangat menarik untuk disambangi.

Berada di wilayah Desa Umbu Ngedo, Kec. Kodi Bangedo berjarak sekitar 40 kilometer dari Tambolaka terdapat desa bernama Ratenggaro. Ratenggaro ini sendiri mempunyai arti yaitu kata “Rate” yang artinya kuburan, sedangkan kata “Garo” yang artinya adalah orang-orang Garo. Jadi konon dahulu kala saat masih terjadi perang antar suku, orang yang saat ini menjadi penghuni Desa Adat Ratenggaro berhasil merebut wilayah atau tempat desa orang-orang Garo.

Di desa ini, Anda dapat mempelajari bahasa, budaya, dan kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat yang masih erat memegang budayanya.

Di Desa Rottenggaro, terdapat rumah tradisional khas Sumba yang terbuat dari bambu. Tinggi atapnya mencapai 25 meter. Atap yang tinggi ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada roh para leluhur sesuai dengan kepercayaan Marapu, yaitu kepercayaan yang dianut penduduk lokal.

Rumah Adat Ratenggaro mempunyai bentuk rumah panggung yang terdiri dari 4 (empat) buah tingkat, dimana tingkat yang paling bawah dipakai sebagai tempat hewan peliharaan. Kemudian tingkat kedua merupakan tempat pemilik rumahnya tinggal bersama dan setelah itu diatasnya merupakan tempat menyimpan hasil panen.

Kemudian diatas tempat memasak ada kotak yang merupakan tempat menyimpan benda keramat serta pada tingkat teratas merupakan tempat meletakkan tanduk hewan kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan. Tipikal dari rumah adat di Desa Ratenggaro ini hampir mirip seperti orang Flores dan Toraja, dimana rumahnya ada rahang babi dan juga tanduk kerbau yang digantung sebagai simbol jika orang yang mempunyai rumah tersebut pernah melakukan upacara adat.

Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro akan membuat para pengunjungnya serasa kembali ke zaman megalithikum pada sekitar 4.500 tahun yang lalu dimana masih ada banyak kuburan batu tua disekitar perkampungan.

Pada zaman itu, suku yang sudah kalah perang akan dibunuh dan kemudian dikubur di tempat itu juga. Ada 304 buah kubur batu serta 3 (tiga) diantaranya berbentuk unik dan terletak dipinggiran laut. Ukuran dan juga pahatan pada disetiap kuburan batu semakin menambah kesan magis serta mendalam pada peninggalan leluhur.

Bentuknya yang seperti meja datar dan berukuran besar terlihat kokoh walaupun setiap harinya selalu terkena hantaman angin yang sangat kencang dari arah laut yang terletak dibelakang kampung. Selain batu kubur para leluhur atau raja, ada pula batu kubur warga Rotenggaro lainnya dengan ukuran yang relatif lebih kecil.

Nah, jika Anda ingin sedikit menyegarkan diri dengan pemandangan laut, Anda bisa berkunjung ke sebuah pantai cantik yang terletak tidak jauh dari pedesaan ini. Pantai ini menawarkan keindahan alam yang didukung oleh airnya yang jernih dan pasirnya yang putih dan lembut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *