Economic

Skema Mitigasi Pemerintah Terhadap Dampak Gejolak di Timur Tengah

Kondisi geopolitik yang sedang berlangsung, terutama di kawasan Timur Tengah, telah menimbulkan dampak yang nyata terhadap perekonomian global. Pemerintah Indonesia, sambil tetap berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional yang solid, terus memantau setiap perkembangan dan siap mengambil langkah-langkah untuk memitigasi potensi risiko yang mungkin timbul.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa deeskalasi dan menahan diri merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut. Lonjakan harga minyak, akibat serangan Israel ke kedutaan Iran di Damaskus dan retaliasi yang dilakukan oleh Iran, menjadi salah satu dampak yang diperhatikan oleh pemerintah.

Airlangga juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz dan Laut Merah dalam perekonomian global, di mana peningkatan biaya pengiriman (freight cost) menjadi hal yang perlu dipantau dan dimitigasi.

“Dari segi ekonomi, Laut Merah dan Selat Hormuz itu menjadi penting, terutama karena Selat Hormuz itu 33 ribu kapal minyak dan Laut Merah itu sekitar 27 ribu. Dan peningkatan freight cost itu menjadi salah satu hal yang harus dimitigasi,” tutur Menko Airlangga. pada saat konferensi pers usai Rapat Terbatas terkait Perkembangan Situasi Global di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (16/04).

Secara fundamental, perekonomian Indonesia saat ini tumbuh solid sekitar 5%, dengan inflasi stabil dalam rentang 2,5% ± 1%. Neraca perdagangan masih mengalami surplus dan cadangan devisa mencapai sekitar USD136 miliar.

Namun, dalam pasar keuangan, penguatan dollar index dan pelemahan nilai tukar serta indeks harga saham secara global menjadi perhatian. Meskipun demikian, Indonesia masih relatif dalam situasi aman dibandingkan dengan negara-negara sejenis.

“Nah, nilai tukar dan indeks harga saham itu juga mengalami pelemahan secara global. Namun Indonesia dibandingkan peer countries relatif masih salam situasi aman,” ungkap Menko Airlangga.

Menko Airlangga menekankan perlunya mengambil beberapa kebijakan, seperti kebijakan fiskal dan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar, APBN, serta memantau kenaikan logistik dan harga minyak. Reformasi struktural juga terus diprioritaskan untuk menjaga ekspektasi investor dan memperkuat daya saing, serta menarik investasi jangka panjang ke Indonesia.

“Bagi sektor riil, dampak depresiasi nilai tukar dan kenaikan ini salah satu yang dilihat yang tentu sangat berpengaruh terhadap impor. Namun tentu efek juga terhadap eksportir mendapatkan devisa lebih banyak. Tentu ini plus minusnya kita harus jaga,” jelas Menko Airlangga.

Selain itu,  pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan memitigasi dampak dari gejolak geopolitik global, sambil memastikan bahwa defisit tetap dalam rentang yang diizinkan oleh undang-undang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button