Business

Subsektor Migas Lampaui Capaian Positif Tahun 2017

Sepanjang tahun 2017, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berhasil mencatatkan capaian-capaian positif di subsektor minyak dan gas bumi (migas), baik di sektor hulu, hilir, hingga penerimaan negara. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Ego Syahrial, Kepala Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas Fanshurullah Asa, dan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menyampaikan capaian tersebut pada Konferensi Pers Capaian Subsektor Migas Tahun 2017, di Jakarta, Selasa (9/1).

Dari sektor hulu, Pemerintah memperkenalkan skema Production Sharing Contract (PSC) Gross Split yang diminati oleh investor. Pada lelang blok migas tahun 2017 dengan skema Gross Split, dari 10 Blok Migas Konvensional yang ditawarkan, 5 Blok Migas diminati investor. Hal tersebut jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan lelang blok migas tahun 2015 dan 2016 dengan skema Cost Recovery, yang tidak ada peminat.

Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) yang diantaranya mengatur tentang insentif perpajakan PSC Cost Recovery, yakni PP nomor 27 Tahun 2017, dan insentif perpajakan PSC Gross Split, yakni PP Nomor 53 Tahun 2017. Kedua PP tersebut mengatur bahwa kegiatan eksplorasi migas bebas perpajakan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan investasi di kegiatan hulu migas.

Ego menyampaikan bahwa capaian tersebut memberikan sinyal positif terhadap kegiatan Pemerintah, terutama kegiatan lelang Wilayah Kerja (WK) Migas eksplorasi dengan skema Gross Split.

Untuk tahun 2018-2019, Pemerintah mematok target agar produksi dipertahankan atau bahkan ditingkatkan dengan biaya operasi yang lebih efisien. Produksi rata-rata minyak dan gas bumi Blok Mahakam pada tahun 2017 adalah 52 ribu Barrel Oil per Day (BOPD) minyak dan kondensat, serta 1.351 Million standard cubic feet per day (MMSCFD) gas.

Dari proyek-proyek strategis migas, Pemerintah telah meresmikan fasilitas produksi gas Lapangan Jangkrik pada 31 Oktober 2017. Lapangan Jangkrik menambah produksi Migas sebesar 100.000 Barrel Oil Equivalent Per Day (BOEPD). “Jangkrik ini salah satu milestonenya adalah produksinya lebih tinggi daripada apa yang direncanakan. Direncanakan sekitar 450 MMSCFD, saat ini sudah berproduksi hingga 650 MMSCFD, equivalen dengan 100.000 lebih BOPD (Barrel Oil Per Day),” tambah Ego.

Total investasi hulu JTB mencapai USD 1,5 miliar. JTB diproyeksikan memproduksi gas sebesar 217 MMSCFD, di mana 172 MMSCFD untuk dijual dan 45 MMSCFD untuk operasional. “Ini menambah kapasitas pasokan gas kita dalam waktu dekat,” tutur Ego.

Untuk Blok Masela, saat ini sedang berjalan proses persiapan pre-FEED, yakni menganalisis opsi terbaik terkait jenis dan kapasitas produksi, biaya investasi, dan keekonomian, serta jadwal proyek.

Sementara untuk lifting migas, capaian di tahun 2017 adalah sebesar 1.944.000 BOEPD atau 98,9% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang sebesar 1.965.000 BOEPD. Untuk tahun 2018 target lifting migas adalah sebesar 2.000.000 BOEPD, yang terdiri dari 800.000 BOPD untuk lifting minyak bumi dan 1.200.000 BOEPD untuk gas bumi.

Penerimaan negara dari subsektor migas menembus Rp 138 triliun (unaudited) atau 117%. Selain itu, untuk pertama kalinya sejak tahun 2015, penerimaan negara di tahun 2017 lebih besar USD 1,8 miliar dibandingkan dengan cost recovery. Hal tersebut diraih setelah dilakukan peningkatan evaluasi program kerja dan anggaran, pengawasan, serta efisiensi di beberapa proyek migas. Progres saat ini memperlihatkan bahwa bagian Pemerintah atau contractor share prosentasenya semakin lama posisinya semakin baik, yaitu 45%. Kalau kita bandingkan tahun 2016 maupun 2015 berkisar antara 39 hingga 40%, di tahun 2017 ini kita berhasil menembus angka 45%. Selebihnya merupakan bagian dari cost recovery maupun bagian dari kontraktor,” jelas Ego.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button