Tari Golek Menak, Tari Ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

0

beksan-sari-kembar-ciptaan-alm-skardjono-sebagai-pembuka-pergelaran-drama-tari Golek Menak

Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan Tari Golek Menak berawal dari ide Sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut juga Beksa Golek Menak, atau Beksan Menak yang mengandung arti menarikan wayang Golek Menak. Dalam perjalanan selanjutnya, tari Golek Menak terus mengalami penyempurnaan hingga mencapai bentuknya yang dapat disaksikan sekarang, sampai dengan masa pasca wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 3 Oktober 1988.

Seperti kelaziman yang berlaku di keraton-keraton Jawa, tentunya, Sultan bukanlah seorang kreator tunggal dari tari Golek Menak. Peran Sultan dalam hal ini adalah sebatas sebagai penggagas dan pemrakarsa, sedangkan untuk realisasinya, ia dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Keraton. Meski demikian, satu hal harus kita akui bersama bahwa Sultan telah berhasil mendorong terwujudnya sebuah karya tari yang tidak saja unik, melainkan mampu menjadi salah satu ikon seni dan budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Yogyakarta, dan yang masih terus bertahan hingga saat ini.

Tari Golek Menak Tari Golek Menak, merupakan jenis tarian klasik, gaya Keraton Yogyakarta. Tari Golek Menak, mengandung arti menarikan Wayang Golek Menak. Wayang Golek Menak, merupakan jenis wayang yang dibuat dari bahan kayu, yang memakai busana, layaknya manusia. Jenis wayang ini berkembang di Jawa Tengah Bagian Barat dan Jawa Barat.

Segi kostum juga cukup diperhatikan dalam penggarapan tari Golek Menak. Disesuaikan dengan nafas Islam yang menjadi latar penciptaan, seluruh tokoh dalam tari Golek Menak mengenakan baju berlengan panjang dari bahan beludru bersulam benang emas, atau sutra/satin. Selebihnya, kostum seperti pada wayang orang seperti celana cindhe, kain panjang bergaya rampekan, kampuhan, cincingan, atau seredan, sondher (selendang) cindhe, dan aksesoris seperti jamang (hiasan kepala) dengan lancur atau bulu, sumping, kelat bahu (gelang tangan), dan kalung susun tiga. Khusus hiasan kepala, terdapat satu yang khas dalam tari Golek Menak yaitu puthutan atau dulban yang menyerupai surban yang dikenakan antara lain oleh tokoh Amir Ambyah.

Ada pula hiasan kepala khusus dengan untaian mote-mote menutupi wajah khusus untuk pemeran putri Cina. Untuk senjata, selain keris dan panah, dipergunakan pula pedang sabet, tombak panjang, dan rantai yang biasanya menjadi senjata Adaninggar. Burung garuda bermahkota sebagai piranti lambang kegagahan tari gaya Yogyakarta juga kerap dihadirkan. Dari segi iringan, tari Golek Menak secara umum diiringi oleh gamelan berlaras pelog. Teknik kendangnya adalah batang, mengadopsi kendangan Sunda, ditambah dengan instrumen berupa kecrek dan keprak/dhodhogan seperti pada wayang kulit.   Dalam versi drama tari, disajikan pula dialog yang menggunakan bahasa Jawa Bagongan yang merupakan modifikasi bahasa Jawa ragam madya dengan 11 kosakata yang berbeda seperti manira untuk ‘saya’ dan pakenira untuk ‘kamu/Anda’, yang tentunya berbeda dengan bahasa Jawa yang ada dalam teks Serat Menak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *