DestinationHeadline NewsTourism

Tingkatkan Pengelolaan Masjid untuk Wisata Religi Indonesia

Secara global khususnya di kawasan regional Asia Tenggara, para wisatawan asing lebih tertarik berkunjung ke negara Malaysia dibandingkan dengan Indonesia berkaitan dengan wisata Islam seperti yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

“Pada saat kita bicara yang berkaitan dengan Islam, sesuatu yang halal dan bisnis orang melihatnya Malaysia bukan Indonesia padahal Malaysia Masjidnya lebih sedikit dibanding Indonesia yang kita punya Masjid sampai puluhan ribu dan Mushola ada ratusan ribu. Tapi kalo bicara tourism yang berkaitan dengan Islam orang pasti mikirnya langsung Malaysia, kita kalah sama Malaysia, kurang apa Indonesia,” ungkap Menteri Rudiantara dalam acara Penutupan Program Simposium Nasional Dewan Masjid dalam Pengembangan Pariwisata Religi di Indonesia di Grand Sahid Jaya, Jumat, 15 Desember 2017.

Menteri Kominfo mengatakan industri bisnis halal secara global lebih banyak terdapat di wilayah Indonesia dan mengalami peningkatan secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga ke tahun – tahun berikutnya. “Secara global, bisnis industri halal sebanyak 30% ada di daerah kita sebetulnya. Tahun 2016 nilainya 198 miliar meningkat menjadi 281 miliar, meningkatnya 50% sampai tahun 2022”, tambahnya

Dalam sambutan sebelum menutup acara Simposium ini, Menteri Rudiantara menekankan ada 2 hal penting yang harus menjadi konsen dalam rangka peningkatan wisata religi di Indonesia. Pertama, siapa yang target yang disasar dan kedua adalah apa produknya.

“Pertama, apakah wisatawan lokal atau asing yang menjadi target karena ini dua hal yang berbeda. Kemudian produknya apa? Produk kita sekarang Masjid. Masjid apa? Apakah Masjid yang sekarang Masjid yang sekarang dioperasikan atau Masjid yang memang khusus untuk wisata”, tegasnya.

Adanya latar belakang legenda menjadi hal lain yang diharapkan Menteri Kominfo menjadi konsen dalam membangun masjid–masjid selanjutnya. Cirebon dengan legenda Sunan Gunung Jati, Pesantren dengan legenda Kyai dan Bali dengan banyak legendanya menjadi beberapa contoh yang disampaikan oleh Rudiantara pada acara tersebut.

Menurut Menteri Rudiantara, adanya Masjid saja tidak cukup untuk dijadikan modal untuk meningkatkan pariwisata religi di Indonesia.

“Contohnya Lombok itu dikenal dengan pulau 1000 Masjid. Tapi apakah itu bisa dijadikan wisata? Tidak,” tuturnya. Jelasnya ia menuturkan pula bahwa biasanya wisatawan Lombok berwisata ke Mandalika atau ke tempat – tempat yang lain tapi bukan Masjid.

Walaupun Lombok dikatakan pulau 1000 Masjid, Rudiantara berkelak bahwa tetap harus mengbuat produknya agar orang asing maupun Indonesia datang ke Masjid juga. “Kalo perlu bikin satu kawasan untuk Masjid – Masjid terkenal seluruh dunia disitu. Jadi orang betul – betul tertarik untuk datang,” tutupnya

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button