EconomicHeadline NewsInvestment

Tingkatkan Produksi Perkebunan, RPN Genjot Investasi Teknologi dan Bibit Unggul

Riset Perkebunan Nusantara (RPN) akan menggenjot investasi di bidang teknologi untuk memperbesar produksi hasil perkebunan. Hal tersebut disampaikan Direktur of  Research  for Development PT. Riset Perkebunan Nusantara Dr.Ir.Gede Wibawa saat menjadi pembicara  dalam program Business and Invesment Forum, yang ditayangkan di channel 21 Nin Media, you tube dan aplikasi Kugo. Program dialog ini pandu oleh Priska Aryani (Purti Pariwisata Sulbar 2018) yang dilangsungkan di Studio EL JOHN TV di Neo Capital lantai 40, S.Parman, Jakarta.

“Kami berinvestasi cukup banyak di teknologi. Teknologi yang sudah kami investasi   dan sedang berjalan ini, adalah memperbesar produksi produk-produk yang berasal dari Somatic Embryogenesis teknologi ini. Karena teknologi ini saat sekarang dan ke depan ini menjadi peluang yang sangat besar. Kami akan meningkatkan produksi di situ,” kata Gede Wibawa.

Menurut Gede Wibawa tidak hanya investasi teknologi, RPN melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit juga akan meningkatkan investasi perbenihan.  Investasi di sektor ini, dinilai memiliki peluang  besar dalam memacu pertumbuhan perusahaan, pasalnya  ke depan Pemerintah telah memiliki banyak program  tentang peremajaan kelapa sawit yang membutuhkan lebih banyak lagi  benih-bening unggul

“Misalnya untuk peremajaan kelapa sawit rakyat, Pemerintah sudah mencanangkan 175.000 hektar per tahun. Ini cukup besar. Ini membutuhkan benih unggul yang luar biasa banyaknya,” ungkap Gede Wibawa.

Tak hanya itu, RPN kini juga sedang menggenjot investasi benih unggul untuk tebu. Dalam investasi ini, RPN menggunakan konsep kultur jaringan untuk memperbanyak produksi benih unggul tebu.

Dalam program dialog ini, Gede Wibawa juga menjelaskan peluang investasi di sektor perkebunan yang dapat digarap oleh para pemangku kepentingan maupun RPN sendiri, seperti investasi di industri hilir untuk kelapa sawit.

“Kalau kita lihat dari statistik kita kelapa sawit, kita menghasilkan hampir  47 juta ton per tahun itu hampir 68 sampai 70 persen kita ekspor. Ini adalah peluang kita bisa masuk ke industri hilirnya, itu pun kita hanya pakai 30 persen,”

Investasi lainnya adalah di sektor perkebunan kopi. Untuk Kopi saat ini sedang hits investasi di hilir. Tidak sedikit bisnis kopi olahan berjejer di jalan. Namun yang disayangkan kondisinya tidak berimbang di sektor hulunya. Karena itu butuh, terobosan dalam menggenjot produksi kopi agar ada keseimbangan antara hulu dan hilir.

“Perkembangan di hilir cukup luar biasa. Tetapi kalau kita lihat di hulunya, di kebunnya itu sangat sedikit.  Tidak imbang antara produksi yang kita lakukan di kebun dengan serapan besarnya daya tarik bisnis kopi saat ini,” tutur Gede Wibawa.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close