Headline NewsHealthy LifeTourism

Travel Medicine Penuhi Kebutuhan Kesehatan Wisatawan Saat Berwisata

Berwisata bukan sekedar beli tiket, tentukan tempat tujuan, dan mempersiapkan barang yang dibutuhkan. Ada satu lagi yang seharusnya dilakukan untuk keselamatan dan kesehatan, apalagi di masa pandemi Covid-19. Memeriksakan kondisi kesehatan atau konsultasi dengan dokter sering kali diabaikan oleh calon wisatawan, padahal hal tersebut penting, agar wisatawan dapat berwisata dengan aman dan nyaman.

Untuk mendukung  kebutuhan tersebut, hadir suatu ilmu kedokteran yakni  travel medicine atau kesehatan perjalanan.  Travel medicine ini,  sangat membantu calon wisatawan yang ingin berkonsultasi sebelumnya melakukan plesiran,

Travel Health Consultant Rumah Sakit Grha Kedoya Jakarta  Dr. M. D. Daniel Hadinoto, FISTM, Sp.KP., FAsMA-CATM mengatakan ilmu kedokteran tentang travel medicine sudah ada sejak masyarakat senang jalan-jalan. Ilmu ini,  sangat berkembang di benua biru  dan Amerika Serikat. Di Indonesia ilmu tentang travel medicine  sudah ada progres yang baik, hal tersebut tak lepas dari banyaknya minat masyarakat untuk berwisata.

Tak sekedar hanya minat, namun masyarkaat juga  dituntut memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan untuk berwisata. Hanya saja, Travel Medicine memiliki konsep terbalik.

“Biasanya kita kalau sakit berobat ke dokter, agak beda prinsipnya kalau di travel medicine. Kita lagi sehat, kita datang ke dokter, kita minta masukan nasehat dari dokter supaya kita tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di tempat tujuan, itu konsep dari travel medicine,” kata dokter Daniel  diwawancarai oleh Cinthia Kusuma Rani (Miss Earth Indonesia 2019) dalam program Indonesia Medical Forum (IMF) yang ditayangkan EL JOHN TV.

Dokter Daneil menilai, konsultasi ke dokter menjadi penting,  karena akan mendapat masukan untuk diterapkan selama berwisata, apalagi saat berwisata melakukan kegiatan yang mengundang resiko. Tak hanya itu, untuk berwisata atau berpergian ke  daerah yang sulit fasilitas kesehatan juga diharuskan melakukan konsultasi kepada dokter.

“Jadi kalau dia mau berpergian atau melakukan travel ke daerah tertentu misalnya Bali, dia mau surfing atau naik gunung atau dia mau scuba diving, jadi dia mau ngapain kita kasih masukan. Tidak hanya kegiatan yang dilakukan tetapi terutama kalau kita pergi ke daerah yang agak unik dan agak jauh dari fasilitas umum misalnya  dan itu lumrah terjadi. Misalnya kalau kita kehutanan atau ke daerah-daerah atau kota-kota yang fasilitas kesehatannya tidak sebaik di tempat asal,” ujar dokter Daniel.

Di masa pandemi ini, dokter Daniel menyarankan agar masyarakat yang ingin berwisata terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Meski sudah banyak informasi tentang berpergian aman dari Covid-19, namun tidak salah untuk melakukan kunjungan ke dokter.

“Ini bisa membantu wisatawan di saat pergi di masa pandemi ini. Bahkan wisatawan juga dapat mengontak langsung kepada dokter yang dikunjungi melalui sambungan telpon saat terjadi sesuatu yang mengeluhkan gejala seperti gejala yang ditimbulkan oleh Covid-19,” ungkap dokter Daniel

Selain travel medicine, dalam konteks  kesehatan di sektor pariwisata ada juga yang namanya travel clinic. Dokter Daniel menjelaskan, travel clinic adalah salah satu fasilitas kesehatan yang berada di area wisata.

“Mungkin kalau di daerah yang wisatawannya cukup banyak, cukup berkembang, banyak turis asing, contohnya Bali.  Jadi banyak teman-teman sejawat saya yang mempraktekan ini dan segment pasarnya pun ada sendiri. Kalau boleh saya bilang justru banyak wisatawan asing yang lebih aware terhadap ini, ini yang membuat saya sedih juga. Wisatawan asing itu,  lebih aware terhadap kesehatan dibanding orang kita. Mereka punya catatan vaksinisasi yang lengkap, mereka punya pengetahuan yang lengkap apa yang harus dipersiapkan. Jadi mereka jauh lebih siap,” terang dokter Daniel.

Travel clinic ini juga dapat menangani wisatawan yang sedang jatuh sakit atau sakit bawaannya kambuh, bahkan pelayanannya pun juga sampai ke urusan harus di rujuk. Asalkan, si pasein memiliki rekam medis hingga nomer kontak rumah sakit yang sebelumnya menangani si pasien tersebut.

“Jadi kalau yang sakit, assesmen-nya lebih kompleks. Jadi kita harus lihat dulu kasusnya apa, apakah dia layak untuk diterbangkan, layak berpergian atau tidak, riwayat penyakitnya seperti apa. Kita harus komunukasi sama dokter yang sudah merawat daerah tujuannya atau negara tujuannya atau rumah sakit yang dituju atau-kah juga  transportasi pilihan dari klien ini, apakah menggunakan pesawat komersil atau pesawat charter, ini harus segera dipertimbangkan,” tutup dokter Daniel.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close