WALUBI Gelar Pasamuan Agung IV, Ribuan Umat Buddha Padati JIExpo, Kemayoran

0
EJN09160

Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) menyelenggarakan Pasamuan Agung IV di JIExpo Convention Center & Theatre, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (29/11/2025). Gelaran berskala nasional ini berlangsung meriah dengan kehadiran ribuan umat Buddha yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia untuk mengikuti salah satu agenda terbesar organisasi tersebut.

Sejak pagi, area JIExpo sudah dipadati peserta yang mengenakan busana khas kebhikkhuan maupun pakaian adat dari daerah masing-masing. Suasana penuh kekeluargaan dan semangat kebersamaan sangat terasa, menggambarkan keragaman tradisi dalam tubuh WALUBI yang tetap bersatu dalam visi dan tujuan keagamaan.

Acara diawali dengan kumandang Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”, dilanjuti dengan “Hymne WALUBI” yang dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta. Dua lagu tersebut menjadi penanda kokohnya kebhinekaan dan semangat nasionalisme umat Buddha Indonesia.

Setelah itu, dilakukan pembacaan doa oleh Bhikkhu Sangha dari tiga tradisi besar: Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Kehadiran para tokoh sangha lintas tradisi tersebut menjadi simbol nyata dari semangat berhimpun, berdampingan, dan memelihara keharmonisan dalam organisasi WALUBI.

Pada acara ini, para tamu undangan disajikan tayangan video kilas balik perjalanan WALUBI mulai tahun 2017 hingga 2025. Video dokumentasi tersebut memperlihatkan berbagai kegiatan penting, seperti penyaluran bantuan sosial, pembangunan fasilitas ibadah, kolaborasi dengan pemerintah, hingga diplomasi antarorganisasi keagamaan.

Pasamuan Agung IV resmi dibuka dengan memukul tabur oleh Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.; Menteri Kebudayaan Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. dan Ketua Umum DPP WALUBI Ibu Dr. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya.

Hartati menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara dengan baik. Ia menegaskan bahwa keberlangsungan persatuan Indonesia merupakan berkah yang harus terus dijaga oleh seluruh rakyat.

“Saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, Dharma, dan Sangha, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini,” ujar Hartati.

Ia juga memberikan apresiasi kepada pemerintah dan seluruh jajaran umat Buddha di Indonesia yang selama ini terus menjaga kehidupan beragama yang damai dan harmonis. Menurutnya, keberagaman bangsa justru menjadi kekuatan yang harus dirawat bersama.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah, seluruh jajaran umat Buddha, dan masyarakat Indonesia yang beragam. Sampai hari ini kita masih tetap bersatu sesuai cita-cita kemerdekaan yang begitu luhur,” tuturnya.

Hartati kemudian menekankan bahwa Indonesia merupakan contoh negara yang kaya budaya dan agama, namun mampu hidup berdampingan dengan damai. Hal ini, menurutnya, harus menjadi komitmen bersama untuk terus dijaga.

“Bangsa kita dipenuhi keberagaman agama dan budaya yang indah, dan sampai hari ini semua dapat kita jalani dengan selamat. Harapan saya ke depan, bukan hanya umat Buddha, tetapi seluruh masyarakat Indonesia dapat terus bersatu,” katanya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, menyampaikan pesan penting tentang penguatan moral spiritual bangsa yang terbalut dalam acara ini.

Menag menekankan bahwa tantangan global yang semakin kompetitif memerlukan keteguhan moral dan spiritual sebagai fondasi. Hal ini, menurutnya, merupakan prasyarat penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain.

“Target kita ke depan adalah menciptakan kebersamaan, yang berjalan paralel dengan agama-agama lain, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang kuat dari sudut pandang moral dan spiritual,” ujar Nasaruddin.

Ia menambahkan bahwa moralitas menjadi salah satu kekuatan utama bangsa, terutama dalam menghadapi dunia yang semakin cepat berubah. Tanpa fondasi spiritual yang kokoh, Indonesia akan kesulitan bersaing.

“Tanpa moral dan spiritual, bangsa ini akan sulit bersaing di era kompetitif seperti sekarang,” tegasnya.

Lebih jauh, Menag menyoroti bahwa Indonesia sebagai negara Pancasila, khususnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menuntut adanya penguatan suasana keberagaman baik secara internal maupun eksternal. Menurutnya, keharmonisan antaragama harus terus dipelihara dan ditopang oleh kearifan lokal yang kaya.

“Sebagai negara Pancasila, sila pertama mengajarkan bahwa suasana keberagaman, baik internal maupun eksternal, harus semakin kuat dan benar-benar dipelihara. Nilai-nilai agama juga harus bersentuhan dengan kearifan lokal kita,” katanya.

Sementara itu dari sisi budaya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menegaskan bahwa salah satu harapan pemerintah dalam forum besar ini adalah terjalinnya kerja sama konkret dalam pelestarian warisan budaya, khususnya peninggalan sejarah yang merupakan bagian tak terpisahkan dari peradaban Nusantara.

“Kami tentu berharap salah satu keputusan Pasamuan ini dapat memperkuat kerja sama dalam merawat, menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan dan memanfaatkan warisan budaya kita,” tambahnya.

Fadli kemudian menyoroti bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peradaban Buddha yang berkembang selama berabad-abad dan meninggalkan banyak situs monumental. Ia mencontohkan beberapa situs besar yang telah mendunia.

“Peradaban Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang agama Buddha. Kita mengenal peninggalan luar biasa seperti Candi Borobudur, Candi Muara Jambi, dan sejumlah situs lainnya yang kita harapkan dapat terus menjadi living heritage,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa situs budaya tidak boleh hanya menjadi monumen mati, tetapi harus menjadi ruang hidup yang berdampak sosial, spiritual, dan ekonomi bagi masyarakat.

“Warisan budaya ini tidak boleh menjadi dead monument, bukan hanya monumen atau artefak semata, tetapi harus menjadi living heritage,” tegas Fadli.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi kontribusi WALUBI yang selama ini konsisten menghidupkan nilai-nilai budaya di berbagai situs heritage, khususnya saat perayaan Tri Suci Waisak di Borobudur.

“WALUBI telah berkali-kali menunjukkan hal itu, terutama melalui perayaan Waisak yang tidak hanya menjadi event spiritual, tetapi juga event kebudayaan yang membawa ekonomi budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar situs,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Pasamuan Agung IV tidak hanya menjadi forum musyawarah, tetapi juga ruang refleksi dan penyatuan langkah untuk memperkuat peran WALUBI dalam memajukan kehidupan beragama, memperluas pengabdian sosial, serta memperkukuh persatuan umat Buddha di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *